TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Potensi wisata tidak akan tumbuh maksimal jika persoalan lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah.
Berangkat dari gagasan itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas) Kelompok Leuwiliang A menjembatani kolaborasi antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tasikmalaya untuk mendorong pengembangan wisata berbasis lingkungan.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam kegiatan yang digelar di Aula Kelurahan Leuwiliang, Kecamatan Kawalu, Senin (3/8/2026).
Baca Juga:Revisi Retribusi Pasar Tak Perlu Tunggu 3 Tahun, Hipatas Nilai Pemkot Keliru Tafsirkan AturanDefisit APBD Kota Tasikmalaya Terus Membengkak! Pinjaman Ditahan, Pemangkasan TPP ASN Segera Terwujud
Fokus pembahasan mengarah pada penguatan edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dipadukan dengan pemetaan dan penataan potensi wisata lokal.
Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda DLH Kota Tasikmalaya, Dewi Nusarini, menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya.
Menurut dia, perubahan perilaku masyarakat menjadi fondasi utama dalam menciptakan kawasan yang bersih dan layak dikembangkan sebagai destinasi wisata.
“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perlu keterlibatan masyarakat, termasuk bagaimana sampah dikurangi dan dipilah sejak dari sumbernya,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Sementara itu, perwakilan Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Ermayanti SST.PAR, mengungkapkan Kelurahan Leuwiliang memiliki potensi yang layak dikembangkan, mulai dari wisata alam, aktivitas olahraga hingga kekayaan budaya lokal.
Namun, potensi tersebut tidak cukup hanya dipetakan, melainkan harus dikelola secara berkelanjutan agar tidak sekadar menjadi potensi di atas kertas.
Menurutnya, peran generasi muda menjadi kunci. Karang Taruna dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam mengelola potensi wisata secara mandiri, profesional, dan berdaya saing.
Baca Juga:Lorong Merah Putih di Tasikmalaya Hidupkan Gotong Royong, Gang Disulap Jadi Simbol Semangat HUT ke-81 RIKenaikan Retribusi Pasar Diprotes, Pedagang Ancam Mogok Massal dan Kepung Balai Kota Tasikmalaya
Perwakilan mahasiswa KKN Kelompok Leuwiliang A mengatakan, kolaborasi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari program pengabdian selama masa KKN.
Mereka ingin membuka jalan agar sinergi antara pemerintah dan masyarakat tetap berjalan setelah masa pengabdian selesai.
“KKN kami memiliki batas waktu, tetapi pembangunan dan pemeliharaan Leuwiliang merupakan proses yang tidak berhenti. Kami ingin membuka pintu kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah daerah,” katanya.
Mahasiswa juga berharap DLH dan Disporabudpar dapat melakukan pendampingan serta monitoring secara berkala.
Langkah itu dinilai penting agar edukasi pengelolaan sampah, penataan kawasan wisata, hingga pemberdayaan pemuda tidak berhenti ketika program KKN berakhir.
