Semakin banyak janji yang harus diwujudkan. Semakin banyak kegiatan yang ingin dilaksanakan. Padahal hukum fiskal sangat sederhana. Kalau uangnya berkurang, belanjanya harus menyesuaikan.
Bukan sebaliknya. TAPD seharusnya menjadi rem. Bukan hanya menjadi pencatat. Tugas mereka bukan sekadar menghitung angka.
Tetapi juga mengatakan tidak ketika kondisi keuangan tidak memungkinkan. Karena kemampuan terbesar seorang pengelola anggaran bukan saat menghabiskan uang. Melainkan saat berani menolak pengeluaran yang tidak mampu dibiayai.
Di sinilah peran TAPD menjadi penting.
Baca Juga:Defisit yang DirencanakanTebak-tebakan, Calon Pemilik Tiga Kursi Dinas di Pemerintah Kota Tasikmalaya!
Bahkan sangat penting. Mereka adalah GPS keuangan daerah. Ketika arah sudah mulai salah, merekalah yang seharusnya mengingatkan.
Ketika kendaraan terlalu cepat, merekalah yang harus menyuruh mengerem. Bukan justru ikut menikmati perjalanan. Karena pada akhirnya rakyat tidak peduli siapa yang duduk di TAPD.
Rakyat juga tidak peduli siapa yang membuat simulasi anggaran. Yang rakyat tahu hanya satu. Jika jalan rusak tidak diperbaiki. Jika program tertunda. Jika kontraktor tidak dibayar. Jika pelayanan terganggu.
Maka ada yang salah dalam tata kelola keuangan daerah. Dan jika benar kewajiban Kota Tasikmalaya kini mendekati Rp200 miliar, maka pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang salah.
Pertanyaannya adalah: Mengapa tim yang dibentuk khusus untuk menjaga kesehatan APBD tidak mampu mencegah penyakit itu datang lebih awal?
Karena kota ini bukan tidak punya TAPD. Kota ini punya. Yang kini ditunggu masyarakat adalah jawaban: Mengapa alarmnya tidak berbunyi sebelum kebakaran terjadi?
Padahal angka defisit yang kini sudah menembus Rp 200 miliar itu tidak mungkin lewat begitu saja.
Baca Juga:Bertahan Hidup Tanpa Bawang Merah!Dari Tasikmalaya untuk 2029, Laskar Gerindra yang Tak Akan Berhenti Bergerak!
Terlalu besar untuk diabaikan. Terlalu serius untuk dianggap rumor biasa. Tetapi ada satu fakta lain yang mulai muncul ke permukaan. Yakni TAPD.
Tim yang tugasnya menjaga kesehatan APBD. Tim yang seharusnya menjadi radar sebelum badai datang. Tim yang seharusnya tahu lebih dulu ketika kapal mulai kemasukan air.
Menariknya, menjadi anggota TAPD bukan pekerjaan tambahan yang gratis. Ada honorarium. Ada insentif. Ada kompensasi atas tugas dan tanggung jawab tersebut.
Nilainya disebut mencapai sekitar Rp552 juta. Tentu bukan untuk satu orang. Tetapi untuk tim.
