Nandang menilai TAPD seharusnya tampil menjelaskan kepada publik. Bukan bersembunyi di balik istilah teknis. Karena tugas TAPD bukan hanya menyusun angka.
Tetapi juga menjaga kepercayaan. Dan kepercayaan itu lahir dari keterbukaan. Bukan dari desas-desus. Maka pertanyaan yang kini menggelinding bukan lagi soal berapa besar defisit. Melainkan lebih sederhana.
Kalau TAPD dibentuk untuk membaca masa depan APBD, dan bahkan mendapatkan honor khusus untuk tugas tersebut, mengapa hari ini masyarakat justru lebih banyak mendengar rumor daripada penjelasan?
Baca Juga:Defisit yang DirencanakanTebak-tebakan, Calon Pemilik Tiga Kursi Dinas di Pemerintah Kota Tasikmalaya!
Karena dalam dunia anggaran, yang paling mahal bukan angka Rp200 miliar. Yang paling mahal adalah hilangnya kepercayaan publik. Dan sekali kepercayaan itu bocor, menutupnya jauh lebih sulit daripada menutup defisit. (red)
