TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di tengah masih kuatnya stigma terhadap penyandang disabilitas, sebuah film karya komunitas tunanetra hadir membawa pesan berbeda.
Bukan lagi sekadar menjadi objek cerita yang dikasihani, penyandang tunanetra kini berdiri di balik layar sebagai penulis naskah hingga sutradara.
Film berjudul Langit Tetap Sama akan menjalani gala premiere gratis pada 14 Juni 2026 di Gedung Creative Center Dadaha, Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:IPAL TPA Ciangir Belum Beroperasi, IGM Soroti Dugaan Pemborosan Anggaran Rp3,6 Miliar dan Pencemaran BerlarutTabungan Haji dan Emas Digenjot, 546 Prajurit Muda Yonif Macan Putih Siapkan Masa Depan Finansial
Film ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan tembok yang menghalangi kreativitas, melainkan tantangan yang bisa ditaklukkan lewat karya.
Berbeda dari banyak film bertema disabilitas yang selama ini lahir dari sudut pandang non-disabilitas, Langit Tetap Sama justru dibangun dari pengalaman hidup yang nyata.
Naskah ditulis oleh penulis tunanetra dan proses penyutradaraan juga dilakukan oleh sutradara tunanetra.
Langkah tersebut menghadirkan perspektif yang lebih otentik sekaligus menjadi tamparan halus bagi stereotip lama yang masih menganggap penyandang disabilitas hanya layak menjadi penonton dalam panggung kehidupan.
Film hasil kolaborasi Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah Kota Tasikmalaya dan komunitas Sahabat Mata ini mengangkat perjalanan seorang penyandang tunanetra menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Cerita tidak berkutat pada keterbatasan fisik semata, melainkan menyentuh isu penerimaan diri, perjuangan melawan stigma sosial, membangun relasi dengan lingkungan, hingga menemukan harapan di tengah tantangan.
Melalui alur yang sederhana namun emosional, penonton diajak memahami realitas yang selama ini sering luput dari perhatian.
Baca Juga:Industri Herbal Tasikmalaya Dinilai Menjanjikan, DPRD Jabar Dorong UMKM Naik KelasHarga Pertamax Melonjak Rp16.250 per Liter, Warga Tasikmalaya Mulai Melirik Pertalite Lagi
Mulai dari persoalan aksesibilitas, kesempatan berkarya, hingga pandangan masyarakat yang masih perlu diperbaiki.
Ketua penyelenggara gala premiere, Harniwan Obech dari Paguyuban Pegiat Disabilitas Kota Tasikmalaya (Papeditas), mengatakan film tersebut diharapkan menjadi media edukasi untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya lingkungan yang inklusif.
Menurut dia, hambatan yang dihadapi penyandang disabilitas bukan hanya soal akses fisik, melainkan juga akses informasi dan stereotip sosial yang masih membatasi ruang partisipasi mereka.
“Disabilitas bukanlah kekurangan yang harus dikasihani, melainkan bagian dari keberagaman manusia yang harus dihargai dan dihormati,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Pesan itu sejalan dengan upaya mendorong pembangunan inklusif di berbagai sektor, mulai pendidikan, ketenagakerjaan, pelayanan publik hingga industri kreatif.
