TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Melemahnya nilai tukar rupiah tidak hanya berdampak pada pelaku industri dan perajin tahu-tempe, tetapi juga berpotensi menekan sektor pertanian hingga memperbesar ancaman inflasi di daerah.
Pengamat Ekonomi yang juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Prof Kartawan, mengingatkan agar kondisi tersebut tidak dianggap sepele karena dapat memicu persoalan ekonomi yang lebih luas.
Menurut dia, sektor pertanian menjadi salah satu pihak yang terdampak langsung akibat ketergantungan terhadap bahan baku impor, termasuk pupuk. Ketika rupiah melemah, biaya produksi petani otomatis ikut meningkat.
Baca Juga:Kursi Strategis Wakapolres dan Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota Resmi Berganti PenghuniKasus ISPA Balita di Kota Tasikmalaya Tembus 6.811, Penularan Justru Banyak Berawal dari Rumah
“Para petani memupuk tanamannya dengan pupuk yang sebagian besar bahan bakunya impor. Otomatis mereka memupuk lahan yang sama dengan rupiah yang lebih mahal,” ujar Prof Kartawan, Senin (8/6/2026).
Dia menilai pemerintah perlu serius menyikapi pelemahan rupiah yang saat ini terjadi.
Sebab, tekanan ekonomi yang terus membesar dapat beririsan dengan dinamika politik dan memicu keresahan sosial.
Menurutnya, apabila kondisi ekonomi dianggap enteng dengan alasan masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari, justru dapat menjadi kesalahan besar dalam membaca persoalan.
“Kalau kondisi ini dianggap ringan karena rakyat di desa tidak menggunakan dolar, itu berbahaya. Pertemuan krisis politik dan krisis ekonomi bisa memicu keputusasaan masyarakat yang ujungnya reformasi,” tegasnya.
Di sisi lain, Prof Kartawan menyoroti inflasi di Tasikmalaya yang masih banyak ditopang kelompok makanan dan minuman.
Komoditas pangan seperti beras, cabai, daging ayam dan telur ayam menjadi penyumbang utama kenaikan harga.
Baca Juga:28 ASN Pensiun dan 28 Naik Pangkat, Perangkat Daerah Pemkot Tasikmalaya Jangan Cepat Puas BerprestasiKPK Awasi SPMB, DPRD Kota Tasikmalaya Ingatkan Celah Permainan Jangan Pangkas Hak Siswa
Menurut dia, inflasi pada dasarnya dipengaruhi oleh keseimbangan antara sisi pasokan (supply) dan permintaan (demand).
Karena itu, langkah pengendalian harus dilakukan secara menyeluruh.
Dari sisi pasokan, pemerintah perlu mendorong peningkatan produksi komoditas pangan agar ketersediaan barang tetap terjaga di pasar.
Khusus beras, operasi pasar dapat menjadi salah satu instrumen untuk menekan lonjakan harga.
“Untuk supply, produsen harus didorong agar meningkatkan produksi komoditas yang menjadi penyumbang inflasi. Untuk beras bisa dilakukan operasi pasar,” katanya.
Sementara dari sisi permintaan, ia menilai edukasi kepada masyarakat juga penting dilakukan, terutama terkait konsumsi minuman kemasan yang menjadi salah satu penyumbang inflasi kelompok makanan dan minuman.
