TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita di Kota Tasikmalaya masih menjadi perhatian.
Sepanjang Januari hingga April 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya mencatat sebanyak 6.811 kunjungan balita akibat ISPA ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra Hendriana, menjelaskan dari jumlah tersebut terdiri atas 287 kasus pneumonia balita, 6.517 kasus ISPA bukan pneumonia, dan nol kasus kematian.
Baca Juga:28 ASN Pensiun dan 28 Naik Pangkat, Perangkat Daerah Pemkot Tasikmalaya Jangan Cepat Puas BerprestasiKPK Awasi SPMB, DPRD Kota Tasikmalaya Ingatkan Celah Permainan Jangan Pangkas Hak Siswa
Menurut Asep, tingginya kasus ISPA pada balita tidak semata-mata dipicu faktor cuaca.
Justru, penularan lebih sering berasal dari lingkungan keluarga yang berinteraksi langsung dengan bayi dan balita di rumah.
“Biasanya balita tertular dari orang dewasa atau anggota keluarga lain. Kakaknya yang sekolah, adiknya, atau orang tua yang sedang batuk pilek kemudian menularkan ke bayi di rumah,” ujarnya.
Ia menuturkan, sebagian besar bayi belum banyak beraktivitas di luar rumah sehingga sumber penularan lebih sering berasal dari anggota keluarga yang beraktivitas di luar kemudian membawa virus atau bakteri ke lingkungan rumah.
“Kalau cuaca biasanya lebih berdampak ke orang dewasa dulu. Setelah itu baru menular ke bayi atau balita yang ada di rumah,” katanya.
Asep mengingatkan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk menekan risiko penularan ISPA.
Langkah sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan masker saat sedang sakit dinilai masih menjadi benteng utama pencegahan.
Baca Juga:Kuasa Hukum Terlapor Soroti Dugaan Pencurian ART, Pertanyakan Permintaan Damai hingga Rp200 JutaViral Dugaan Penganiayaan Mantan Majikan kepada ART di Tasikmalaya
Namun demikian, ia mengakui kesadaran penggunaan masker saat mengalami gejala batuk dan pilek masih belum optimal di masyarakat.
Selain itu, kebiasaan mencium atau menggendong bayi secara bergantian juga berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit pernapasan.
“Bayi sering dicium-cium atau diajak bermain oleh anggota keluarga yang baru pulang beraktivitas. Itu yang harus diwaspadai,” tuturnya.
Meski ribuan kasus tercatat dalam empat bulan pertama tahun ini, Asep memastikan kondisi tersebut masih dapat tertangani oleh fasilitas kesehatan.
Sebagian pasien memang memerlukan perawatan di rumah sakit, terutama yang mengalami gejala lebih berat seperti sesak napas.
