TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Melemahnya nilai tukar rupiah kembali menjadi pukulan telak bagi pelaku usaha kecil.
Ratusan perajin tahu dan tempe di Tasikmalaya terpaksa mengurangi produksi, menaikkan harga jual, hingga merampingkan jumlah pekerja akibat lonjakan harga kedelai impor dan berbagai bahan penunjang produksi.
Anggota Himpunan Perajin Tahu Tempe Tasikmalaya, H Imin Muslimin, mengatakan kenaikan harga kedelai impor asal Kanada menjadi beban terberat yang kini dihadapi para perajin.
Baca Juga:Parkir Kota Tasikmalaya Dikelola Yayasan, Harapan Tertib Mengaspal di Empat Ruas Jalan StrategisBSMSS 2026 Garap Jalan 1,5 Kilometer di Salawu, Akses Warga Jahiang Tasikmalaya Mulai Keluar dari Kubangan
Harga kedelai yang sebelumnya Rp 9.200 per kilogram kini melonjak menjadi sekitar Rp 11.000 hingga Rp 11.100 per kilogram.
Akibatnya, sekitar 400 perajin tahu-tempe yang tersebar di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya terpaksa mengurangi kapasitas produksi.
Jika sebelumnya rata-rata mampu mengolah empat kuintal kedelai per hari, kini turun menjadi tiga kuintal per hari.
“Kenaikan harga kedelai impor membuat seluruh perajin harus mengurangi produksi. Kalau dipaksakan dengan harga lama, tentu akan merugi,” ujar Imin saat ditemui di tempat pembuatan tahu miliknya yang berada di Mangkubumi, Minggu (7/6/2026).
Dampak berikutnya tak terhindarkan. Harga tahu dan tempe di tingkat perajin mengalami penyesuaian secara serentak.
Tahu ukuran kecil yang sebelumnya dijual Rp 450 per biji kini menjadi Rp 500 per biji. Ukuran sedang naik dari Rp 550 menjadi Rp 650 per biji, sedangkan ukuran besar naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.100 per biji.
Kenaikan juga terjadi pada produk tempe. Tempe ukuran kecil yang sebelumnya Rp 2.000 kini menjadi Rp 2.500. Ukuran sedang naik dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.000, sementara ukuran besar dari Rp 6.000 menjadi Rp 7.000.
Baca Juga:Kas Daerah Diperketat, SIPD Dikunci Sebagian; Pemkot Tasikmalaya Prioritaskan Belanja Apa? IPAL TPA Ciangir Belum Optimal, Aktivis Lingkungan Soroti Proyek Rp3,6 Miliar yang Masih Terseok
Menurut Imin, para perajin sebenarnya berusaha mempertahankan harga agar tidak memberatkan konsumen.
Namun derasnya arus kenaikan biaya produksi membuat pilihan mereka semakin sempit.
Saat bahan baku terus menanjak, perajin hanya bisa memilih antara menaikkan harga atau menanggung kerugian.
Tak hanya kedelai, berbagai kebutuhan produksi lainnya juga ikut meroket.
Harga plastik kemasan yang sebelumnya sekitar Rp 720 ribu per bal kini menyentuh Rp 1 juta per bal. Garam kerosok untuk kebutuhan produksi naik dari Rp 90 ribu menjadi Rp 150 ribu per karung ukuran 50 kilogram.
