Harga Kedelai Impor Naik, Ratusan Perajin Tahu di Tasikmalaya Pangkas Produksi dan Naikan Harga Jual

harga kedelai impor naik di Tasikmalaya
Perajin di Mangkubumi Kota Tasikmalaya saat mengolah kedelai impor menjadi tahu, Minggu (7/6/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Sementara itu, harga kunyit melonjak dari Rp 5.500 menjadi sekitar Rp 9.000 per kilogram. Biaya bahan bakar kayu yang sebelumnya Rp 1,1 juta per truk kini mencapai Rp 1,8 juta per truk.

Kenaikan juga dirasakan pada biaya listrik. Untuk daya 5.500 watt yang digunakan menjalankan mesin giling, mesin peras dan sistem penguapan, tagihan listrik bulanan naik dari sekitar Rp 1,45 juta menjadi Rp 1,67 juta.

Kondisi tersebut memaksa sebagian perajin melakukan efisiensi tenaga kerja. Jika sebelumnya mempekerjakan delapan orang pekerja, kini hanya tersisa lima orang.

Baca Juga:Parkir Kota Tasikmalaya Dikelola Yayasan, Harapan Tertib Mengaspal di Empat Ruas Jalan StrategisBSMSS 2026 Garap Jalan 1,5 Kilometer di Salawu, Akses Warga Jahiang Tasikmalaya Mulai Keluar dari Kubangan

Sistem kerja pun diubah menjadi bergilir dengan satu pekerja libur setiap hari untuk menekan biaya operasional.

“Sekarang pekerja dirolling karena kami tidak sanggup menanggung biaya seperti sebelumnya,” beber Imin.

Meski tekanan biaya produksi terus meningkat, hingga saat ini belum ada rencana aksi mogok produksi dari perajin tahu-tempe di Jawa Barat.

Para perajin masih memilih bertahan dengan melakukan penyesuaian harga dan pengurangan produksi.

Di tengah situasi tersebut, para perajin berharap kondisi nilai tukar rupiah segera membaik.

Sebab, ketika kedelai impor terus melambung, yang ikut terjepit bukan hanya perajin, tetapi juga masyarakat yang sehari-hari menggantungkan lauk murah dari tahu dan tempe.

Di saat tahu-tempe dikenal sebagai makanan rakyat, kini justru rakyat dan perajinnya sama-sama dipaksa menghitung setiap rupiah yang keluar dari dapur. (rezza rizaldi)

0 Komentar