TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kasus bunuh diri yang masih terjadi di berbagai daerah menjadi perhatian serius kalangan psikolog. Salah satunya yang terjadi di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya pada Kamis kemarin. Dua pria kehilangan nyawa setelah mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.
Dari kacamata psikolog, peristiwa tersebut dinilai bukan hanya persoalan individu semata, melainkan masalah kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi psikologis, lingkungan sosial, hingga tekanan ekonomi.
Psikolog Rikha Surtika Dewi, S.Psi., M.Psi., mengatakan tindakan bunuh diri umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebagian besar kasus merupakan akumulasi dari tekanan hidup yang berlangsung dalam waktu lama dan tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
Baca Juga:Gaji Selamat, Pelayanan Tamat!Uriarte Didiskualifikasi, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi 4 Klasemen Kejuaraan Dunia Moto3
Menurutnya, depresi berat menjadi salah satu faktor psikologis yang paling sering ditemukan pada individu yang memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidup.
Penderita depresi biasanya mengalami kesedihan berkepanjangan, kehilangan harapan, merasa tidak berharga, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.
“Banyak individu yang merasa sudah tidak mampu lagi menghadapi persoalan hidup yang sedang dialaminya. Kondisi putus asa menjadi faktor yang sangat dominan dalam berbagai kasus,” ujar Rikha.
Ia menjelaskan, perasaan putus asa atau hopelessness membuat seseorang meyakini bahwa tidak ada lagi jalan keluar dari masalah yang dihadapi.
Dalam kondisi tersebut, kematian sering kali dipandang sebagai satu-satunya cara untuk menghentikan penderitaan yang dirasakan.
Selain depresi, trauma akibat pengalaman buruk juga menjadi faktor yang dapat memicu munculnya keinginan bunuh diri. Trauma tersebut bisa berasal dari berbagai peristiwa, seperti kekerasan fisik maupun psikologis, pelecehan, kehilangan anggota keluarga, perceraian, hingga tekanan hidup yang berlangsung dalam jangka panjang.
Rikha menambahkan, sejumlah gangguan kesehatan mental lainnya juga dapat meningkatkan risiko bunuh diri, di antaranya gangguan bipolar, gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), skizofrenia, serta beberapa jenis gangguan kepribadian.
Baca Juga:BREAKING NEWS! SPPG Mulyasari Tamansari Kota Tasikmalaya Mendadak Berhenti Operasional, Tak Ada Batas WaktuTersangka Korupsi MBG Atur Verifikasi SPPG Hingga Mark Up Pengadaan Motor Listrik dan Sepatu
Dari sisi psikologis, individu yang sedang mengalami krisis biasanya mengalami perubahan pola pikir yang ekstrem. Mereka cenderung melihat persoalan secara sempit dan menganggap tidak ada alternatif penyelesaian selain mengakhiri hidup.
