Ia mengungkapkan kebiasaan unik yang dilakukan saat masih tinggal di Belanda.
Ketika merasa kecewa atau mengalami periode buruk dalam kariernya, Malen sering mengukir kalimat-kalimat motivasi pada balok kayu di kamarnya.
Kalimat-kalimat tersebut masih ada hingga sekarang karena terukir permanen pada kayu.
Baca Juga:Dugarry Tuding Gaya Main Arsenal Seperti Sekumpulan Badut: Arteta Mengkhianati Identitas KlubDumfries Selangkah Lagi Gabung Real Madrid, Inter Bidik Marco Palestra
“Saya pernah mengukir beberapa kata motivasi di balok kayu kamar saya ketika sedang terpuruk. Salah satunya berbunyi, ‘Kamu harus berhasil’. Ada juga tulisan, ‘Teruslah maju’,” ungkapnya.
Malen mengaku bukan seorang seniman. Ia hanya membutuhkan pengingat agar tetap percaya pada mimpinya menjadi pesepak bola profesional.
“Saya menuliskannya di kayu lalu memandanginya berulang kali agar tidak menyerah. Kata-kata itu memberi saya keyakinan. Saya tidak ingin berhenti percaya pada sepak bola,” tuturnya.
Tumbuh Sebagai Anak Petani di Pedesaan Belanda
Kisah masa kecil Malen jauh berbeda dengan kebanyakan pemain sepak bola modern yang tumbuh di lingkungan perkotaan.
Ia dibesarkan di kawasan pedesaan Belanda yang dipenuhi lahan pertanian dan peternakan. Karena latar belakang tersebut, teman-temannya sering menjulukinya sebagai “Si Petani”.
“Saya tumbuh di antara peternakan dan ladang. Semua orang memanggil saya Petani. Saya bukan berasal dari kota, melainkan dari daerah dengan sedikit rumah dan sedikit penduduk,” kata Malen.
Ia mengenang bagaimana kakek dan neneknya tinggal hanya beberapa langkah dari rumahnya.
Baca Juga:Ibrahimovic Cuti Panjang, Bergomi Ingatkan Pesan Paolo MaldiniDavide Torchia: Juventus Bisa Jual Semua Pemain Kecuali Yildiz
Kini, ketika membawa anak-anaknya ke kampung halaman, mereka selalu terkejut melihat suasana pedesaan yang begitu berbeda dari kehidupan modern.
“Mereka bermain sepak bola di lapangan rumput, lalu hanya beberapa meter dari sana ada sapi dan keledai di balik pagar. Bau kandangnya sampai ke taman bermain dan mereka berkata, ‘Baunya tidak enak sekali!’. Tetapi bagi saya itu hal yang normal karena saya tumbuh di sana,” ujarnya sambil tertawa.
Salah satu kenangan paling berkesan baginya adalah saat bermain sepak bola bersama sang kakek di hamparan padang rumput dekat rumah.
“Itulah tempat saya pertama kali bermain sepak bola. Kenangan bersama kakek adalah salah satu yang paling indah dalam hidup saya,” kenang Malen.
