Anak Muda Style, Jangan Kebanyakan Mengeluh!

Anak muda mengeluh
Gambar ilustrasi:AIGemini
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya sering bertemu anak muda. Yang saya temukan ada dua kelompok.

Kelompok pertama sibuk mencari jalan. Kelompok kedua sibuk mencari alasan. Yang pertama biasanya bergerak. Yang kedua biasanya berisik.

Indonesia hari ini memang tidak sedang baik-baik saja. Lapangan kerja ketat.

Persaingan semakin keras. Harga-harga naik.

Baca Juga:Meneladani Spirit Pengorbanan dan Kepedulian Sosial di Hari Raya Idul Adha 1447 HDua Sasana Taijiquan Resmi Berdiri di Kota Tasikmalaya

Teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan banyak orang untuk beradaptasi. Media sosial setiap hari menampilkan kesuksesan orang lain.

Akibatnya banyak anak muda yang mulai merasa tertinggal. Lalu muncul satu penyakit baru. Pesimisme.

Merasa masa depan sudah ditentukan sebelum pertandingan dimulai. Merasa semua kesempatan hanya milik orang-orang tertentu.

Merasa perjuangan tidak akan mengubah apa-apa. Padahal sejarah bangsa ini justru dibangun oleh orang-orang yang tidak punya apa-apa. Kecuali keberanian.

Maka pertanyaannya: Anak muda harus apa? Jawabannya sederhana. Jangan menjadi penonton. Itu dulu.

Karena terlalu banyak anak muda yang hidupnya habis untuk mengomentari kehidupan orang lain.

Bangun tidur membuka media sosial. Siang membahas politik. Malam mengkritik negara. Besoknya mengulang hal yang sama.

Baca Juga:Foto yang Menjelaskan Semua Tentang PPP Kota Tasikmalaya!Drama Muscab PPP yang Melelahkan Itu Pun Berakhir

Tidak ada karya. Tidak ada gerakan. Tidak ada perubahan. Padahal dunia tidak berubah karena komentar.

Anak muda harus mulai membangun kompetensi. Belajar apa saja yang membuat dirinya bernilai. Belajar teknologi.

Belajar komunikasi. Belajar bisnis. Belajar kepemimpinan. Belajar menyelesaikan masalah.

Karena masa depan tidak lagi bertanya dari kampus mana Anda berasal. Masa depan bertanya: Apa yang bisa Anda kerjakan?

Di era digital ini, ijazah tetap penting. Tetapi keterampilan jauh lebih penting.

Karena algoritma tidak peduli siapa ayah Anda. Internet tidak peduli jabatan keluarga Anda. Yang dihargai adalah kemampuan.

Maka anak muda harus menjadi pembelajar seumur hidup. Jangan berhenti belajar setelah wisuda. Justru setelah wisuda, proses belajar yang sesungguhnya dimulai.

Lalu bagaimana menghadapi pesimisme?

Pesimisme itu manusiawi. Tetapi jangan dijadikan alamat tinggal.

Boleh mampir. Jangan menetap. Sebab tidak ada generasi dalam sejarah yang hidup tanpa masalah. Generasi 1945 menghadapi penjajahan.

Generasi 1960-an menghadapi krisis politik. Generasi 1998 menghadapi krisis ekonomi.

0 Komentar