Generasi sekarang menghadapi disrupsi teknologi. Setiap zaman punya ujiannya sendiri. Maka jangan merasa paling berat. Jangan merasa paling menderita. Yang membedakan bukan masalahnya.
Yang membedakan adalah responsnya. Anak muda yang hebat bukan yang hidupnya mudah. Tetapi yang tetap bergerak ketika keadaan sulit.
Di era digital, anak muda juga harus berhati-hati. Karena informasi begitu melimpah. Tetapi kebijaksanaan semakin langka.
Baca Juga:Meneladani Spirit Pengorbanan dan Kepedulian Sosial di Hari Raya Idul Adha 1447 HDua Sasana Taijiquan Resmi Berdiri di Kota Tasikmalaya
Semua orang bisa bicara. Sedikit yang benar-benar berpikir. Semua orang bisa viral. Sedikit yang benar-benar bermanfaat.
Jangan ukur hidup dari jumlah pengikut. Jangan ukur masa depan dari jumlah likes.
Jangan ukur kesuksesan dari jumlah views.
Karena kehidupan nyata tidak berada di layar ponsel. Kehidupan nyata ada di lapangan. Di tempat kerja. Di ruang usaha. Di organisasi. Di masyarakat. Dan satu lagi.
Masuklah ke ruang publik.
Jangan alergi terhadap organisasi. Jangan alergi terhadap politik. Jangan alergi terhadap kepemimpinan. Karena masa depan bangsa ini tidak boleh diserahkan kepada orang lain.
Kalau anak-anak baik menjauh dari ruang publik, maka ruang itu akan diisi oleh mereka yang belum tentu baik. Maka anak muda harus hadir. Harus peduli. Harus terlibat. Harus menjadi solusi.
Bukan sekadar menjadi penonton. Sebab pada akhirnya sejarah tidak ditulis oleh mereka yang paling banyak mengeluh.
Sejarah ditulis oleh mereka yang tetap bekerja ketika orang lain sibuk mengeluh.
Baca Juga:Foto yang Menjelaskan Semua Tentang PPP Kota Tasikmalaya!Drama Muscab PPP yang Melelahkan Itu Pun Berakhir
Dan masa depan Indonesia tidak menunggu generasi yang sempurna. Masa depan Indonesia menunggu generasi yang mau bergerak. (red)
