TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di sebuah sudut tenang Kelurahan Sirnagalih, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, aroma telur asin tak sekadar soal rasa.
Ia menyimpan jejak panjang pengabdian, kesabaran, dan cara sederhana merawat martabat manusia—sesuatu yang dulu diperjuangkan R.A. Kartini, kini dijahit ulang oleh tangan-tangan sunyi seperti Iyan Yuliantini.
Perempuan 60 tahun itu bukan sekadar pensiunan guru SLB. Ia adalah “rumah kedua” bagi anak-anak tunagrahita—tempat mereka belajar berdiri tanpa bergantung, meski dunia kerap tak ramah.
Baca Juga:Memantik Tafsir!Spanduk “Tuyul” di Kebon Kembang Kota Tasikmalaya Dicopot, Keresahan Warga Mereda
Iyan memulai pengabdiannya jauh sebelum istilah “inklusi” jadi jargon populer.
Tahun 1990-an, ia merantau ke Medan sebagai guru sukwan—status yang, kalau boleh jujur, lebih dekat ke kata “ikhlas” daripada “sejahtera”.
Bertahun-tahun tanpa kepastian, hingga akhirnya diangkat menjadi PNS pada 2007 saat mengabdi di Kota Tasikmalaya.
Sejak 2003, ia menetap di kota ini. Dari SLB Yayasan Bahagia (Karoeng) hingga SLB Negeri Tamansari, ia menghabiskan lebih dari dua dekade membentuk satu hal yang sering dianggap sepele: kemandirian.
“Yang paling utama itu bukan pintar, tapi mandiri,” katanya, pelan tapi tegas, Selasa (21/4/2026) saat ditemui di SLB ABC Yayasan Insan Sejahtera Cieunteung, Cihideung.
Kalimat itu sederhana. Tapi di ruang kelas SLB, maknanya bisa sepanjang hidup. Mengajari membaca dan berhitung memang penting. Tapi mengajari anak makan sendiri, membersihkan diri, hingga menyelesaikan tugas tanpa bergantung—itulah bekal paling jujur menghadapi dunia.
Kadang, metode mengajarnya tak masuk buku kurikulum. Dari menggenggam tangan anak untuk belajar cebok, hingga sabar menghadapi “insiden” tak terduga di kelas.
Baca Juga:Sentuhan di Balik Papan: Versi Korban Perempuan Dugaan Asusila Berujung Penculikan di Kota TasikmalayaKasus Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Diculik karena Dugaan Asusila Dilaporkan ke Polisi, ini Pengakuan Saksi
Bagi Iyan, itu bukan pengorbanan heroik. Itu hanya bagian dari pekerjaan—yang, ironisnya, sering tak terlihat.
“Anak-anak itu obat,” ujarnya. Obat dari lelah, obat dari sunyi, sekaligus obat dari prasangka.
Tahun 2025, ia resmi pensiun. Tapi seperti banyak guru sejati, pensiun hanya berlaku di atas kertas. Di rumahnya, ia merintis UMKM telur asin bersama para alumni SLB dari tujuh sekolah di Kota Tasikmalaya.
