Pengabdian Tanpa Batas Kartini Kota Tasikmalaya: Pensiunan Guru SLB Rawat Kemandirian Lewat Telur Asin

kisah inspiratif pensiunan guru SLB Kota Tasikmalaya
Pensiunan Guru SLB Kota Tasikmalaya, Iyan Yuliantini memperlihatkan telur asin yang diproduksi bersama anak-anak tunagrahita, Selasa (21/4/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Produksinya belum besar—sekitar 200 butir per minggu. Dipasarkan ke warung-warung hingga pool bus Primajasa. Satu boks isi 10 butir dijual Rp40 ribu. Telur bebeknya pun dari peternak lokal Indihiang—sebuah ekosistem kecil yang saling menghidupi.

Namun nilai utamanya bukan di angka produksi. Telur asin itu adalah “media belajar kedua”. Di sana, anak-anak dilatih fokus, disiplin, dan tanggung jawab. Dari mencuci, mengolah, hingga mengemas—semuanya dilakukan dengan prinsip yang sama seperti di kelas: mandiri.

“Yang penting mereka punya keterampilan,” terang Iyan.

Di tengah riuh program besar yang sering berhenti di spanduk, langkah kecil ini justru berjalan diam-diam—tanpa seremoni, tanpa panggung.

Baca Juga:Memantik Tafsir!Spanduk “Tuyul” di Kebon Kembang Kota Tasikmalaya Dicopot, Keresahan Warga Mereda

Satirnya sederhana: ketika banyak program pemberdayaan sibuk menyusun proposal, Iyan dan murid-muridnya sudah lebih dulu sibuk membungkus telur asin.

Momentum Hari Kartini setiap 21 April sering dirayakan dengan kebaya dan lomba-lomba simbolik. Tapi bagi Iyan, Kartini hidup dalam pilihan sehari-hari: tetap berkarya, menjaga martabat, dan tidak hanyut dalam arus zaman.

“Perempuan sekarang lebih leluasa. Tinggal bagaimana kita gunakan kesempatan itu,” tambahnya.

Ia mengingatkan, kebebasan tanpa kendali bisa berubah arah. Generasi muda, terutama perempuan, diminta tetap menjaga nilai dan budaya di tengah derasnya pengaruh luar.

Bukan untuk membatasi, tapi untuk menguatkan fondasi. “Minimal memberi warna untuk diri sendiri dulu,” katanya.

Sebuah pesan yang mungkin terdengar sederhana, tapi justru itulah inti perjuangan Kartini: bukan sekadar keluar dari batas, tapi tahu ke mana melangkah setelahnya.

Di Kota Tasikmalaya, Kartini tak selalu hadir dalam buku sejarah atau panggung upacara. Kadang, ia hadir dalam sosok sederhana—yang memilih tetap “mengajar”, bahkan setelah tak lagi menerima gaji.

Baca Juga:Sentuhan di Balik Papan: Versi Korban Perempuan Dugaan Asusila Berujung Penculikan di Kota TasikmalayaKasus Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Diculik karena Dugaan Asusila Dilaporkan ke Polisi, ini Pengakuan Saksi

Di dapur kecil, di antara telur-telur asin yang disusun rapi, Iyan Yuliantini sedang melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar usaha rumahan.

Ia sedang memastikan, bahwa anak-anak yang dulu dianggap “terbatas”, tetap punya ruang untuk hidup bermartabat. Dan barangkali, di situlah Kartini menemukan bentuknya yang paling jujur hari ini. (rezza rizaldi)

0 Komentar