Akhirnya Saling Lapor! Kasus Dugaan Asusila Berujung Penculikan Pedagang Bakso di Kota Tasikmalaya

kasus pedagang bakso Kota Tasikmalaya dua laporan polisi
Kolase Kasatreskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Herman Saputra dengan suasana lokasi kejadian kasus dugaan asusila berujung penculikan di Jalan Cieunteung. Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Penanganan kasus dugaan asusila yang menyeret pedagang bakso di Kota Tasikmalaya memasuki fase krusial.

Polisi kini dihadapkan pada dua laporan yang saling berhadap-hadapan: dugaan pencabulan dan dugaan penganiayaan.

Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota, Herman Saputra, menegaskan kedua pihak telah resmi melapor.

Baca Juga:Pengabdian Tanpa Batas Kartini Kota Tasikmalaya: Pensiunan Guru SLB Rawat Kemandirian Lewat Telur AsinMemantik Tafsir!

“Jadi dua-duanya sudah lapor. Yang merasa dicabuli sudah laporan, yang merasa dianiaya juga sudah laporan. Ini tinggal pembuktian yang mana yang kuat,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (21/4/2026).

Ia mengungkapkan, laporan dari pihak terduga pelaku tukang bakso bahkan lebih dulu masuk dengan dugaan penganiayaan, baru kemudian disusul laporan dugaan asusila dari korban perempuan.

Menurut Herman, saat ini penyidik masih fokus pada pendalaman dan pemeriksaan saksi-saksi untuk mengurai benang kusut dari dua versi yang saling bertolak belakang tersebut.

“Yang pasti kita dalami dulu, periksa saksi-saksi agar seimbang,” katanya.

Terkait tempat kejadian perkara (TKP), polisi telah melakukan olah TKP di warung bakso lokasi kejadian.

Namun, soal unsur asusila, pihaknya masih mengkaji apakah peristiwa tersebut memenuhi unsur pidana atau tidak.

Ia menjelaskan, dugaan peristiwa terjadi melalui lubang pada papan kayu pembatas yang cukup untuk memasukkan tiga jari.

Baca Juga:Spanduk “Tuyul” di Kebon Kembang Kota Tasikmalaya Dicopot, Keresahan Warga MeredaSentuhan di Balik Papan: Versi Korban Perempuan Dugaan Asusila Berujung Penculikan di Kota Tasikmalaya

“Diduga terduga memasukkan jari ke lubang itu hingga menyentuh tubuh korban,” ucapnya.

Meski demikian, Herman menyebut terdapat keraguan pada unsur seksual dalam kejadian tersebut.

“Kalau dilihat dari posisi lubang dan posisi duduk, kemungkinan bukan pantat, tapi bagian lain. Unsur seksualnya di mana, itu yang masih kami dalami,” tambahnya.

Ia juga menyinggung kondisi di lokasi saat kejadian berlangsung, yang disebut tidak sepenuhnya sepi.

“Istrinya ada, pacarnya juga ada di depan. Jadi kita lihat dulu, apakah unsur itu terpenuhi atau tidak,” jelasnya.

Sebelumnya, korban perempuan berinisial E (23) mengaku mengalami pelecehan saat makan bakso di sebuah warung di Jalan Cieunteung, Kecamatan Cihideung, Minggu malam (19/4/2026).

Ia mengklaim ada sentuhan tak pantas melalui lubang papan kayu di dekat tempat duduknya.

0 Komentar