Viman menegaskan, GENIUS tidak sebatas program literasi keuangan. Program tersebut juga berkaitan dengan pendidikan karakter, kemampuan mengambil keputusan, pengendalian diri, serta tanggung jawab terhadap konsekuensi dari setiap pilihan keuangan.
Dalam pelaksanaannya, guru dinilai memiliki peran penting sebagai penggerak literasi keuangan di lingkungan sekolah. Pengetahuan yang diperoleh guru diharapkan dapat diteruskan kepada peserta didik hingga masuk ke lingkungan keluarga.
“Pengetahuan yang diperoleh hari ini harus dibawa masuk ke sekolah dan disampaikan dengan bahasa yang sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak. Kita ingin anak-anak Kota Tasikmalaya tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya pintar di sekolah, tetapi juga pintar mengambil keputusan dalam kehidupan,” kata Viman.
Baca Juga:Kadin Mempersatukan Tiga Orang yang Dulu Berbeda, Kini Menjadi Satu Meja!Ketua dan Sekretaris SC Mukota Kadin Kota Tasikmalaya Pamit !
Program tersebut juga diselaraskan dengan program prioritas Pemkot Tasikmalaya, Tasik Pintar. Viman menyebut pendidikan harus memberikan bekal yang lebih luas, termasuk karakter, literasi digital dan literasi finansial.
“Anak-anak kita harus memiliki kemampuan akademik, karakter yang kuat, literasi digital, dan termasuk literasi finansial,” ujarnya.
Dalam rangkaian pencanangan GENIUS, enam Duta Literasi Keuangan-Guru Penggerak GENIUS OJK juga dikukuhkan. Selain itu dilakukan penandatanganan Komitmen Bersama Implementasi Program GENIUS OJK di Kota Tasikmalaya.
Viman meminta komitmen tersebut tidak berhenti sebagai dokumen administratif. Implementasi program harus dikawal bersama antara Pemkot Tasikmalaya, OJK dan jajaran pendidikan.
“Kalau ada modus keuangan baru, anak-anak kita harus tahu risikonya. Kalau ada tawaran investasi yang tidak masuk akal, mereka harus tahu bagaimana bersikap. Kalau ada pinjaman ilegal atau judi online, mereka harus memahami bahayanya sejak awal,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan literasi keuangan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah menyiapkan ekosistem, OJK memperkuat literasi dan perlindungan konsumen, sekolah menjadi ruang edukasi, guru sebagai penggerak, dan keluarga menjadi benteng pertama bagi anak.(Firgiawan)
