TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Universitas Siliwangi (Unsil) memperkenalkan kemasan baru untuk produk gula aren kristal dari UKM SIRIN, Kabupaten Tasikmalaya. Kemasan tersebut dikembangkan untuk meningkatkan perlindungan produk sekaligus memenuhi kebutuhan pasar hotel dan restoran.
Kabupaten Tasikmalaya merupakan salah satu daerah penghasil gula aren. Dalam tiga tahun terakhir, luas areal tanaman aren mencapai 2.626 hektare dengan produksi gula aren sebanyak 2.436 ton.
Kecamatan Salawu menjadi salah satu sentra terbesar dengan kontribusi sekitar 30 persen dari total produksi gula aren Kabupaten Tasikmalaya. Di wilayah tersebut terdapat 105 petani aren yang memproduksi gula aren cetak untuk kemudian didiversifikasi menjadi gula aren kristal.
Baca Juga:Didemo Mitra di Tasikmalaya, Maxim Indonesia Klarifikasi Soal Potongan Driver, Sebut Komisi 0–8 PersenDugaan Guru di Tasikmalaya Jadi Pengepul Maba Unsoed, AMI: Jangan Biarkan Pendidikan Jadi Lapak Transaksi
Produk gula aren kristal dari mitra kini mendapat tawaran pasar dari sektor pariwisata, khususnya hotel dan restoran. Produk tersebut dibutuhkan dalam kemasan sachet praktis untuk pelengkap sajian kopi dan teh.
Selama ini, hotel dan restoran di pusat pariwisata Kota dan Kabupaten Tasikmalaya masih membeli gula aren kristal kemasan sachet dari luar daerah karena belum tersedia industri gula semut lokal yang mampu mengemas produknya dalam kemasan tersebut.
Koordinator kegiatan pengabdian kepada masyarakat, Aripin, dosen Fakultas Teknik Unsil, mengatakan kemasan gula aren kristal yang digunakan UKM SIRIN masih memiliki sejumlah kekurangan.
“kemasan gula aren kristal di UKM SIRIN masih mempunyai banyak kekurangan, seperti kelengkapan informasi tentang keterangan tambahan pangan yang masih belum memenuhi standarisasi kemasan dan belum adanya keunikan grafis sebagai ciri khas kemasan untuk menjadi pembeda dengan yang lain, serta bahan kemasan yang sekarang belum bisa menjaga kualitas dan daya tahan produk gula aren secara optimal. Hal tersebut menjadikan produk kurang maksimal dalam penyajian kemasan.”
Saat ini, produk masih menggunakan kertas kraft dan plastik tipis. Kemasan ukuran 500 gram hanya menggunakan stiker dengan informasi yang minim dan belum memiliki logo maupun identitas produsen yang jelas.
Kondisi tersebut dinilai kurang mampu melindungi produk, terutama pada kemasan berukuran besar. Plastik yang tipis membuat produk lebih mudah terkikis atau rusak. Minimnya informasi dan desain visual juga membuat produk sulit dikenali konsumen.
