Ketika Prabowo Minta KartaNU, PCNU Kota Tasik Malah Tak Kebagian Sapa!

NU Kota Tasikmalaya
Gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

“Apakah ini soal hubungan?”. “Atau jangan-jangan soal politik?”

Padahal mungkin cuma karena HP sedang silent. Tetapi politik memang sering membuat mode silent terdengar seperti pernyataan politik.

Ada satu hal yang lebih menarik lagi. NU memiliki tradisi panjang tentang adab. Menghormati tamu. Menghormati guru. Menghormati orang tua. Menghormati sesama.

Baca Juga:Prabowo, KDM (part9): Menyeimbangkan Gibran dan Kekuatan Politik Lain!Revitalisasi Sekolah Tak Dikerjakan Kontraktor, Tapi Swakelola Sekolah!

Termasuk menghormati orang yang hendak bepergian. Karena itu pelepasan rombongan sebenarnya bukan sekadar seremoni. Ia adalah bahasa simbolik. Bahasa yang tidak membutuhkan pidato. Kadang seorang pemimpin cukup berdiri di depan bus. Melambaikan tangan. Selesai. Bus jalan.

Tetapi yang dibawa penumpang bukan hanya koper. Mereka membawa perasaan bahwa pemerintah daerah ikut mendoakan perjalanan mereka.

Mungkin inilah filosofi paling sederhana dari persoalan ini: Kekuasaan membuat seseorang semakin penting. Tetapi kekuasaan juga membuat hal-hal kecil menjadi semakin penting.

Sebelum menjadi pejabat, orang bisa datang ke mana saja. Setelah menjadi pejabat, datangnya seseorang menjadi acara. Sebelum menjadi pejabat, tidak membalas pesan dianggap biasa.

Setelah menjadi pejabat, tidak membalas pesan bisa dianggap sikap. Sebelum menjadi pejabat, duduk di kursi hanyalah duduk. Setelah menjadi wali kota, kursi itu punya protokol.

Bahkan mungkin kursinya sendiri tidak boleh sembarangan diduduki. Itulah sebabnya semakin tinggi jabatan, semakin mahal harga sebuah gestur kecil.

Senyum menjadi pesan. Jabat tangan menjadi sinyal. Kehadiran menjadi penghormatan. Dan tidak hadir pun bisa menjadi berita.

Prabowo menerima KartaNU. PCNU Tasikmalaya berharap menerima sapaan.

Baca Juga:RAJA PLT: Satu Hanafi, Banyak Kursi!Enjang Why Not!

Dua-duanya sebenarnya sama-sama simbol. Bedanya, yang satu berupa kartu. Yang satu berupa kehadiran.

Mungkin kelak ada pelajaran baru dalam pemerintahan: Tidak semua hubungan membutuhkan anggaran. Sebagian hanya membutuhkan waktu lima menit.

Tidak semua masalah membutuhkan rapat. Sebagian cukup dengan datang.

Tidak semua konflik membutuhkan mediasi. Kadang cukup membalas. “Insyaallah saya hadir.”

Dan kalau memang tidak bisa hadir: “Mohon maaf, saya tidak bisa melepas. Salam untuk seluruh rombongan.” Selesai.

WhatsApp pun damai. NU pun senang. Wali kota pun tidak kehilangan waktu terlalu banyak. Dan yang paling penting: kursi wali kota tetap menjadi kursi, bukan tembok. (red)

0 Komentar