Dua Remaja Jadi Korban, Genk Motor di Tasikmalaya Tak Bisa Dilawan dengan Narasi

aksi brutal genk motor 
Aktivis Tasikmalaya, Jausan Kamil. istimewa for radartasik.id 
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Aksi brutal genk motor yang kembali menelan korban remaja di Kota Tasikmalaya menjadi rapor merah bagi seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.

Persoalan tersebut dinilai tidak bisa terus diselesaikan sebatas narasi, evaluasi, maupun saling lempar tanggung jawab.

Aktivis Tasikmalaya, Jausan Kamil, menyebut fenomena genk motor bukan persoalan baru.

Baca Juga:Remaja 16 Tahun Meninggal Usai Bentrok Geng Motor di Tasikmalaya, Polisi Kejar Jawaban dari Hasil AutopsiKarhutla Terus Mengintai Kota Tasikmalaya! Ilalang Kering dan Keterbatasan Air Jadi Ancaman

Dari tahun ke tahun, kelompok-kelompok tersebut terus muncul dan menjadi ancaman terhadap keamanan masyarakat.

Ia pun menyampaikan duka cita atas kejadian yang menyebabkan dua remaja menjadi korban keganasan genk motor.

Menurut Jausan, peristiwa tersebut semestinya menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk melakukan introspeksi.

Sebab, menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan bukan hanya menjadi tugas satu instansi.

“Masyarakat, RT/RW, kelurahan, kecamatan, kepolisian, hingga kelompok kepemudaan dan karang taruna memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif,” kata Jausan, Jumat (4/9/2926).

Ia menilai respons terhadap persoalan genk motor selama ini kerap berhenti pada evaluasi dan argumentasi.

Semua pihak sibuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab, sementara pertanyaan paling mendasar justru kerap luput.

Baca Juga:Tak Sekadar Menjalani Hukuman, Warga Binaan Lapas Tasikmalaya Dapat Layanan Pendidikan dan Kesehatan Bayi Dibuang di Rumah Kosong Tasikmalaya, Polisi Kejar Jejak Pelaku

Di antaranya, apakah penertiban di lingkungan masing-masing sudah berjalan? Sejauh mana kondusivitas lingkungan dijaga? Dan apakah edukasi mengenai kenakalan remaja benar-benar dilakukan hingga tingkat masyarakat, termasuk RT dan RW?

Jausan menegaskan, pencegahan kenakalan remaja harus dilakukan sejak dari akar persoalan.

Menurutnya, krisis identitas menjadi salah satu persoalan yang dapat mendorong remaja terjerumus dalam pergaulan negatif.

Kondisi tersebut tidak berdiri sendiri karena dipengaruhi pergaulan, pendidikan, maupun lingkungan keluarga.

“Sudahkah kita memberikan bimbingan, setidaknya terkait lingkungan dan pergaulan mereka?” ujarnya.

Ia menyindir keras jika seluruh organisasi dan lembaga hanya mampu menghasilkan pernyataan tanpa dibarengi langkah nyata.

“Jika seluruh organisasi dan lembaga hanya mampu melontarkan narasi tanpa menghadirkan gerakan nyata, maka semua itu tidak lebih dari sekadar omon-omon,” tegasnya.

Menurut Jausan, pencegahan genk motor membutuhkan kolaborasi vertikal sekaligus pendekatan pentahelix.

Seluruh elemen, kata dia, harus terlibat dalam satu gerakan bersama dan tidak bekerja secara parsial.

0 Komentar