TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Tasikmalaya masih menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Lahan terbuka yang dipenuhi ilalang kering, ditambah keterbatasan sumber air dan akses menuju lokasi, menjadi sejumlah persoalan yang perlu diantisipasi.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Tasikmalaya Budi Martanova mengatakan, dari sekitar 70-an kejadian kebakaran yang ditangani, sebagian besar berkaitan dengan kebakaran lahan.
Baca Juga:Tak Sekadar Menjalani Hukuman, Warga Binaan Lapas Tasikmalaya Dapat Layanan Pendidikan dan Kesehatan Bayi Dibuang di Rumah Kosong Tasikmalaya, Polisi Kejar Jejak Pelaku
Wilayah Bungursari menjadi salah satu kawasan yang cukup rawan karena masih banyak terdapat lahan terbuka dengan kondisi ilalang yang mengering.
“Dari 70-an kejadian itu sebagian besar di lahan, kebakaran lahan yang tertinggi di Bungursari karena di Bungursari itu banyak lahan terbuka dan ilalang kering,” kata Budi, Kamis (3/9/2026).
Meski demikian, Budi memastikan kondisi tersebut sejauh ini masih dapat ditangani petugas di lapangan.
Namun, persoalan Karhutla tidak bisa dianggap remeh. Terlebih, kebakaran lahan kini menjadi perhatian di tingkat nasional sehingga diperlukan koordinasi lintas sektor.
Budi menyebut pihaknya telah mengikuti rapat di tingkat provinsi untuk membahas persoalan Karhutla.
Dalam forum tersebut, BPBD Kota Tasikmalaya turut menyampaikan data kejadian kebakaran lahan, terutama yang terjadi di lahan-lahan kosong.
Di sisi lain, kebakaran rumah disebut masih dalam kondisi normal dan sejauh ini dapat ditangani.
Baca Juga:Bentrok Geng Motor di Tasikmalaya! Remaja 16 Tahun Meninggal Usai Kepala Dipukul Benda TumpulToyota Kijang Terbakar di Tamansari Tasikmalaya, Api Diduga Dipicu Korsleting Kelistrikan
Persoalan yang kerap muncul justru berkaitan dengan pelaporan masyarakat serta akses menuju lokasi kejadian.
Tak jarang, laporan baru diterima ketika api sudah membesar.
“Pelaporan itu seringkali sudah api sudah membesar, bukan api masih kecil,” terangnya.
Kondisi tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Sebab, api yang semestinya bisa dijinakkan ketika masih kecil justru kadang baru dilaporkan setelah berubah menjadi kobaran yang lebih sulit dikendalikan.
Selain kebakaran lahan dan rumah, kebakaran kendaraan juga terjadi. Budi mengingatkan masyarakat agar berhati-hati ketika melakukan pembakaran sampah.
Setiap selesai melakukan pemadaman, petugas Damkar juga memberikan imbauan kepada wilayah setempat, mulai dari RT, kelurahan hingga kecamatan.
Masyarakat diminta tidak sembarangan membakar sampah dan memastikan api benar-benar padam setelah pembakaran.
