TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Upaya Pemerintah Kota Tasikmalaya menangani Anak Tidak Sekolah (ATS) mulai menampakan hasil. Dari 4.470 anak yang telah diverifikasi dan divalidasi (verval), sebanyak 2.764 anak diketahui sudah kembali bersekolah.
Jumlah tersebut merupakan bagian dari 7.520 anak yang sebelumnya tercatat dalam data sementara ATS. Sementara itu, masih ada sekitar 3.050 anak yang belum selesai diverifikasi dan harus ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Penanganan setiap anak pun tidak selalu berujung pada sekolah formal. Di Kecamatan Bungursari, misalnya, dari 185 anak yang masuk dalam data ATS, sebanyak 177 anak telah diverifikasi. Sebanyak 11 di antaranya kemudian disalurkan ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Baca Juga:Periksa Saksi Tragedi Cilembang, Polres Tasikmalaya Kota Ungkap Fakta BeginiKorban Dugaan Tindak Kekerasan di Cilembang Meninggal Dunia, Polres Tasikmalaya Kota Masih Lacak Jejak Pelaku
“Sudah ada 11 anak yang sudah tersalurkan ke PKBM (sekolah nonformal). Mereka perempuan semua, jurusannya tata rias,” ungkap Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan.
Pilihan pendidikan nonformal tersebut menjadi salah satu bentuk penyesuaian penanganan dengan kondisi anak. Sebab, dalam proses verval, Pemkot menemukan beragam alasan yang membuat anak tidak bersekolah, mulai dari tidak tercatat dalam Dapodik, berpindah domisili, sudah bekerja, hingga terkendala persoalan ekonomi.
Karena itu, proses verval dilakukan dengan mencermati kondisi anak satu per satu. Dinas Pendidikan tidak ingin data administratif justru membuat penanganan di lapangan meleset dari keadaan sebenarnya.
Proses tersebut telah berjalan sejak 7 Agustus 2026 dengan melibatkan Dinas Pendidikan dan unsur kewilayahan. Hingga awal September, 4.470 anak telah selesai diverifikasi.
“Alhamdulillah, sebulan berprogres sudah terverifikasi sebanyak 4.470. Sehingga ada sekitar 3.050 yang tersisa yang harus diverifikasi,” ujar Viman.
Sisa data tersebut tersebar di hampir seluruh wilayah Kota Tasikmalaya. Beberapa kecamatan dengan jumlah ATS relatif tinggi antara lain Cihideung, Tawang, dan Cipedes. Dari wilayah-wilayah tersebut, proses verval di Cihideung menjadi salah satu yang paling lambat.
“Cihideung itu paling lambat progresnya,” ujarnya.
Untuk mempercepat penyelesaian, Pemkot memperkuat koordinasi antara Dinas Pendidikan dan unsur kewilayahan, termasuk melibatkan tokoh masyarakat. Perkembangan data juga diperbarui setiap pekan agar anak yang belum terverifikasi dapat segera ditelusuri.
