Andalkan Pengecer, Warga Langkaplancar Pangandaran Harus Menempuh Jarak 60km ke SPBU

Pengisian BBM langkaplancar pangandaran
Warga Langkaplancar mengantre beli bensin eceran, belum lama ini. (Foto: Istimewa)
0 Komentar

PANGANDARAN, RADARTASIK.ID-Akses untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Pangandaran masih terkendala jarak. Warga harus menempuh puluhan kilometer untuk bisa membeli BBM di SPBU.

Kecamatan Langkaplancar saat ini dihuni oleh penduduk dengan populasi sekitar 50 ribu jiwa yang tersebar di 15 desa. Wilayah mereka belum tersentuh oleh distribusi BBM secara resmi.

Bagi masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani, BBM bukan sekadar kebutuhan mobilitas kendaraan. Mereka membutuhkannya untuk mengoperasikan traktor, pompa air, mesin pemotong hingga gergaji mesin yang menunjang aktivitas pertanian sehari-hari.

Baca Juga:Maulid yang Menunggu Wali Kota!Audiensi di DPRD Kota Tasikmalaya, Vendor Bongkar Boroknya Parkir

Warga Langkaplancar Anton mengatakan, mereka terpaksa mengandalkan kios bensin eceran. Sementara jika ingin mendapatkan BBM dari SPBU, warga harus pergi ke Kecamatan Parigi dengan jarak sekitar 60 kilometer.

Hal itu tentu saja bukan perkara sepele.

Selain membutuhkan waktu dan biaya, kondisi jalan menuju wilayah pegunungan Langkaplancar juga menjadi persoalan tersendiri.

“Kendalanya adalah di sini (Langkaplancar) tidak ada pom bensin dan hanya mengandalkan kios bensin, sementara kehidupan ekonomi harus berjalan,” katanya belum lama ini.

“Kita sadar hukum dan aturan. Membeli BBM dengan jerigen juga dengan aturan dan mekanisme. Ada surat dari Dinas Pertanian, ada dari pemerintah desa dan surat rekomendasi yang diperlukan,” ujarnya.

Persoalannya kini justru bagaimana masyarakat bisa mendapatkan BBM secara mudah dan legal jika SPBU tidak tersedia di wilayah mereka. Apalagi mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

“Karena mayoritas penduduk di Kecamatan Langkaplancar ini bekerja sebagai petani yang sangat membutuhkan BBM untuk kendaraan motor, traktor, gergaji mesin, pompa air dan lainnya,” tuturnya.

Keluhan tersebut juga dibenarkan Anggota DPRD Kabupaten Pangandaran, Dede Efendi.

Ia membeberkan bahwa saat ini ada sekitar 50 ribu penduduk Langkaplancar tersebar di 15 desa. Mayoritas warga bekerja sebagai petani dan pekebun yang aktivitasnya sangat bergantung terhadap ketersediaan BBM.

Baca Juga:Tender Kursi Ketua GAPENSIGUS KIKIN, DARI TEBUIRENG KE PBNU

“Mereka mayoritas bekerja sebagai petani dan berkebun, semua kegiatannya memerlukan BBM,” katanya.

Selama ini, warga yang membutuhkan BBM dalam jumlah tertentu terpaksa membeli menggunakan jeriken dari SPBU yang berada di Kecamatan Parigi. Namun belakangan, warga mengaku semakin kesulitan mendapatkan BBM dengan cara tersebut. “Tapi sekarang-sekarang ini sulit untuk membeli BBM menggunakan jerigen ke SPBU,” terangnya.

0 Komentar