Pukul 18.00 hingga 19.30, kegiatan dilanjutkan dengan berjamaah dan ISOMA bersama. Ustad Boim memimpin kegiatan tersebut. Setelah urusan hati selesai, barulah urusan perut kembali mengambil alih.
Panitia punya satu aturan yang sangat Indonesia: Wajib membawa nasi timbel masing-masing. Ini bukan sekadar aturan makan. Ini filosofi.
Dalam hidup, kita memang harus membawa bekal sendiri. Jangan selalu berharap nasi orang lain. Tetapi ketika sudah duduk bersama, nasi timbel sendiri pun terasa lebih nikmat. Apalagi dimakan ramai-ramai.
Pukul 20.00 acara puncak dimulai.
Baca Juga:UMB Bangun Mitra Vokasi Unggulan Bersama Industri, Fasilitasi Siswa SMK dan Mahasiswa untuk BekerjaAngklung Pelajar SDN 1 Rahayu Tasikmalaya Mewarnai Peringatan Kemerdekaan Sambil DilestarikanÂ
Sampai tengah malam. Bukit Nangreu semakin dingin. Tetapi suasana justru semakin hangat. Ada musik electone.
Ada DJ Arfi. Acara dipandu Mang Ade Sani dan Padrik. Tawa terdengar di antara pohon-pohon pinus. Bulan purnama ikut menyinari.
Seolah-olah alam pun ingin tahu: apa yang dilakukan sekumpulan manusia membawa Vespa ke atas gunung pada malam hari?
Jawabannya sederhana: mereka sedang mencari keluarga. Malam keakraban dan silaturahmi itu dihadiri para tokoh Vespa seperti Papih Dudung, Abah Yana dan Adam Mulyana.
Hadir pula Faisal Amir dari Baraya Scooter Tasikmalaya, Beni Muharam dari Vespa Freedom Club Indonesia, Pauzi Abdillah dari Manonjaya Vespa, serta Enan Suherlan dari Scooter Tasikmalaya Club.
Mereka tidak datang untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Tidak ada podium. Tidak ada medali. Tidak ada piala bergilir.
Yang ada hanya satu: persaudaraan. Mereka berbaur dengan komunitas lainnya.bDuduk bersama. Ngobrol bersama. Tertawa bersama. Saling support.
Baca Juga:Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Punya 20 Hektare, Berpeluang Jadi Pusat Distribusi Priangan TimurPengemudi Ojol di Tasikmalaya Dijerat Tali Saat Antar Penumpang, Motor Gagal Dirampas
Dalam dunia yang semakin sibuk mencari perbedaan, komunitas Vespa justru menemukan cara sederhana untuk menemukan persamaan.
Ada pula Kang Asep Saeful Efendi, Mang Ozon, pasangan Beno dan Siti, Depile dan istri, serta Om Bowo. Tidak ketinggalan para mekanik legendaris Vespa: Mang Ringgo, Mang Uje dan Mang Topan.
Mereka ini menarik. Kalau Vespa mogok, mereka dicari. Kalau Vespa hidup, mereka dilupakan. Begitu Vespa mogok lagi, mereka menjadi manusia paling penting sedunia. Itulah nasib seorang mekanik.
Mungkin itulah sebabnya mekanik Vespa jarang marah. Mereka sudah terbiasa menghadapi mesin yang tidak mau menurut.
