TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di area jogging track Stadion Wiradadaha, Dadaha, Kota Tasikmalaya, mendapat respons positif dari warga yang rutin berolahraga.
Namun, dukungan itu bukan berarti pemerintah boleh berhenti pada urusan mensterilkan lintasan.
Warga menilai penataan jogging track memang diperlukan, tetapi nasib PKL juga harus dipikirkan dengan menyediakan lokasi relokasi yang layak.
Baca Juga:Jaga Kota Tasikmalaya Tetap Kondusif, Kapolres dan MUI Perkuat Sinergi di Tengah Dinamika BangsaBukan Pemurtadan, ini Kronologi Rombongan Warga Cibeureum Tasikmalaya ke Jakarta!
Mulyasari Sahara (26), warga Kecamatan Tawang yang rutin berolahraga di kawasan Dadaha, mengatakan penertiban PKL berada di posisi serba salah.
Dari sisi tata kota dan fungsi ruang publik, penertiban dinilai masuk akal. Tetapi dari sisi ekonomi, para pedagang juga tidak bisa begitu saja kehilangan tempat mencari nafkah.
“Fifty-fifty sih. Dibilang support juga enggak. Cuma kalau ngomong secara kebaikan tata kota iya. Dengan ekonomi saat ini agak ada kasihannya juga. Pilihannya susah juga buat masyarakat,” katanya saat ditemui di Dadaha, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, Pemkot Tasikmalaya perlu menyiapkan opsi relokasi bagi PKL.
Apalagi, kawasan Dadaha saat ini dinilai sudah cukup padat sehingga diperlukan pembagian ruang yang lebih jelas antara aktivitas olahraga dan kegiatan ekonomi.
“Kalau menurut saya pribadi mungkin bisa dicoba relokasi, ke mana misalnya. Sekarang kan kalau di Dadaha sudah penuh juga. Mungkin bisa membuka seperti cabang Mambo gitu kan,” terangnya.
Mulyasari menilai keberadaan PKL di Dadaha tidak semata-mata persoalan ketertiban.
Di balik lapak dan dagangan tersebut terdapat masyarakat yang sedang berusaha mempertahankan penghidupannya.
Karena itu, menurut dia, penataan harus tetap memperhatikan aspek keadilan sosial. PKL yang ditertibkan dari jogging track harus memiliki ruang pengganti untuk berjualan.
Baca Juga:Truk Tangki B50 Masuk Jurang di Gentong Tasikmalaya, Hindari Kendaraan Lain hingga OlengKesbangpol Kota Tasikmalaya Ungkap Duduk Perkara Dugaan Pemurtadan, Berawal dari Informasi Mulut ke Mulut
“Jadi ini hanya soal social justice saja, keadilan sosial untuk seluruh masyarakat juga. Jadi yang mereka direlokasi harus ada tempat khusus untuk mereka berjualan,” bebernya.
Di sisi lain, dia mengakui keberadaan PKL memang cukup mengganggu aktivitas olahraga, terutama pada akhir pekan ketika kawasan Dadaha dipadati pengunjung.
“Kalau saya pribadi mungkin terganggu di weekend saja, itu kan padat banget. Kalau kita lari kadang-kadang agak berdesakan,” katanya.
