Tatang juga menyoroti tantangan BKMM-DMI di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Organisasi, kata dia, tidak boleh hanya mengandalkan pola kerja lama jika ingin tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kalau tidak bisa menyesuaikan, akan tertinggal oleh zaman. Maka BKMM semakin ke sini harus semakin menata diri, sehingga benar-benar menjadi organisasi yang dibutuhkan masyarakat dan jamaah,” tambahnya.
Baca Juga:Dua Rumah di Gobras Tamansari Tasikmalaya Kebakaran, Diduga Akibat Korsleting ListrikKredit Tumbuh 3,26 Persen, NPL Priangan Timur Mendekati Batas 5 Persen
Ia berharap BKMM-DMI mampu memberikan kontribusi pemikiran bagi masyarakat dan pemerintah, sekaligus mendorong kehidupan umat ke arah yang lebih baik.
Ketua MUI Kota Tasikmalaya KH Aminuddin Busthomi turut mengapresiasi pelaksanaan Musda yang berlangsung khidmat.
Menurutnya, forum tersebut semestinya tidak hanya sibuk menentukan siapa ketuanya, tetapi juga mampu melahirkan arah organisasi yang lebih visioner untuk lima tahun mendatang.
“Tidak hanya bermusabaqah berkaitan personal siapa ketua, tetapi progres dan visioner ke depan program BKMM,” jelasnya.
Aminuddin menilai sinergi BKMM-DMI dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat perlu terus diperkuat.
Sebab, peran perempuan dalam menggerakkan kehidupan sosial dan keumatan dinilainya sangat besar.
Sementara itu, Ketua PW BKMM-DMI Jawa Barat Hj Lina Marlina menjelaskan, Musda merupakan bagian dari mekanisme organisasi yang wajib dilaksanakan secara periodik sesuai AD/ART.
Baca Juga:Perjalanan SMPN 2 Tasikmalaya Membuat Sekolah Aman, Anak Nyaman! Jangan Cuma Jadi Jalan ke Pangandaran, Goa Cikapinis Didorong Jadi Magnet Wisata Karangnunggal
“Setelah lima tahun, kita pilih ketua di level PC, PD, PW sampai PP secara periodik. Salah satunya Musda kali ini,” katanya.
Lina mengapresiasi eksistensi BKMM-DMI Kota Tasikmalaya yang dinilainya tetap aktif menjalankan berbagai program meski tidak mendapat kucuran anggaran pemerintah.
Namun, ia mengingatkan agar kompetisi dalam Musda tidak berubah menjadi sekat di antara kader.
Setelah pemilihan usai, seluruh pihak harus kembali bersatu dan menjadikan perbedaan pilihan sebagai energi untuk memperkuat organisasi.
“Setelah kompetisi Musda tidak bermusuhan, tetapi rekrut agar memperkuat organisasi dan lebih eksis menjalankan organisasi,” pungkasnya. (firgiawan)
