Pendapatan Daerah Menyempit, TPP Kota Tasik Melompat!

Pad tpp kota tasikmalaya
Ilustrasi AI/ChatGPT
0 Komentar

Grafiknya seperti sedang menunjukkan dua kendaraan. Yang satu PAD. Yang satu TPP.

PAD berjalan naik-turun. Kadang cepat, kadang lambat.

TPP juga naik-turun. Tetapi pada 2025, kendaraan TPP seperti menginjak pedal gas lebih dalam. Pertumbuhan TPP mencapai 91,2 persen.

Sementara pertumbuhan PAD berada di 21 persen. Jaraknya bukan sedikit. Pertumbuhan TPP lebih dari empat kali pertumbuhan PAD. Itulah angka yang membuat grafik APBD ini menjadi menarik.

Sebab pada tahun-tahun sebelumnya hubungan keduanya juga tidak selalu searah.

Baca Juga:Mahasiswa KKN UNITAS Rajapolah Tasikmalaya Asah Citra Diri dan Komunikasi Publik Siswa SMKTatik Pemicu Polemik! Penutupan Jalur Utama Dadaha Tasikmalaya Rawan Mendatangkan PKL Baru

Pada 2018, PAD mengalami kontraksi 21,1 persen. TPP justru tumbuh 33,6 persen. Pada 2020, PAD tumbuh 8 persen, sementara TPP turun sekitar 15,2 persen.

Tahun 2021 PAD melonjak 41,7 persen. TPP justru masih negatif sekitar 2,1 persen. Lalu 2022 terjadi pembalikan lagi. PAD turun 23,3 persen. TPP malah tumbuh 29,7 persen.

Pada 2024, PAD kembali mengalami kontraksi sekitar 3,4 persen, sementara TPP masih tumbuh sekitar 3,3 persen.

Barulah pada 2025 keduanya sama-sama naik. Tetapi kecepatannya berbeda jauh. PAD 21 persen. TPP 91,2 persen.

Kalau ini lomba lari, PAD baru berlari 21 meter, TPP sudah berlari 91 meter. Masalahnya, keduanya menggunakan halaman APBD yang sama.

Nandang mengingatkan, persoalannya bukan pada ASN yang menerima TPP. ASN tentu berhak mendapatkan penghasilan sesuai ketentuan.

TPP juga memiliki fungsi untuk meningkatkan kinerja, disiplin, dan kesejahteraan aparatur. Persoalannya adalah kemampuan fiskal daerah.

Baca Juga:Jika Uji Coba E-Retribusi Pemkot Tasikmalaya Berhasil, Vendor Parkir Wajib Ikut Terapkan DigitalisasiPesta Rakyat Pagi Sampai Malam! Warga MPCR Tasikmalaya Peringati Kemerdekaan dengan Kreatif, Rukun dan Gembira

Kalau ruang fiskal semakin sempit, setiap kenaikan belanja rutin akan membuat ruang untuk belanja pembangunan semakin tertekan.

Di sinilah angka Pendapatan Daerah menjadi penting. Sebab meskipun PAD memiliki tren meningkat, secara keseluruhan pendapatan daerah justru menunjukkan kecenderungan menurun.

Artinya, pertumbuhan PAD belum tentu cukup untuk mengimbangi tekanan fiskal secara keseluruhan. PAD tumbuh. Tetapi kue pendapatan daerah tidak otomatis membesar.

Dan ketika TPP tumbuh jauh lebih cepat daripada PAD, bagian kue yang tersedia untuk kebutuhan lain bisa semakin terbatas.

Ada satu pertanyaan yang barangkali lebih menarik lagi. PAD Kota Tasikmalaya sebagian besar berasal dari pajak dan retribusi. Artinya, uang tersebut pada dasarnya dihimpun dari aktivitas masyarakat dan dunia usaha.

Masyarakat membayar PBB. Masyarakat membayar pajak dari aktivitas konsumsi tertentu. Transaksi properti menghasilkan BPHTB. Penggunaan listrik dan aktivitas ekonomi juga menghasilkan penerimaan pajak daerah sesuai ketentuan. Lalu uang itu masuk APBD.

0 Komentar