Dari Sampah Menjadi Berkah, Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Luthfi Perkuat Gerakan Jaga Lembur

Anggota dprd kabupaten tasikmalaya luthfi
 Luthfi Hizba Rusydia bersama Ketua APDESI Kecamatan Salawu sekaligus Kepala Desa Neglasari, Salawu Sobirin meninjau gudang dan pabrik pengolahan sampah Lentera Harapan Rakyat (LHR) di Jalan Suaka, Kota Tasikmalaya, Sabtu (15/8/2026). (Istimewa)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan mengampanyekan kebersihan. Kesadaran masyarakat perlu dibangun melalui aksi nyata sekaligus menciptakan manfaat ekonomi.

Konsep itulah yang terus didorong Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Tasikmalaya sekaligus Ketua Umum Pergerakan Relawan Kemanusiaan dan Lingkungan Indonesia (PRKI), Luthfi Hizba Rusydia, melalui gerakan “Jaga Lembur”.

Luthfi yang dikenal sebagai aktivis sosial dan lingkungan asal Kabupaten Tasikmalaya mengatakan, konsep “Jaga Lembur” telah dikampanyekan selama belasan tahun bersama almarhum Kang Acil Bimbo, salah satu pendiri PRK-Indonesia. Gerakan tersebut diarahkan untuk menjaga kampung halaman, lingkungan, dan alam melalui aksi yang dapat dilakukan masyarakat secara langsung.

Baca Juga:Penertiban 1.000 Tambang Ilegal Harus Jadi Momentum Evaluasi Kinerja TNI-PolriDEEP Indonesia: Pernyataan Presiden soal Tambang Ilegal Harus Jadi Momentum Evaluasi TNI-Polri

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah. Berdasarkan data yang disebut Luthfi, timbulan sampah organik dan nonorganik di Kabupaten Tasikmalaya mencapai sekitar 600-700 ton per hari sehingga membutuhkan penanganan yang serius dan berkelanjutan.

“Hampir lima tahun konsep ini berjalan. Kami membuat Koperasi Lentera Harapan Rakyat (LHR) untuk membeli sampah non organik dari masyarakat pelosok kampung dan desa di Priangan Timur dengan harga yang layak,” terang Luthfi.

Melalui Koperasi Lentera Harapan Rakyat (LHR), berbagai jenis sampah anorganik dikumpulkan dan dikelola, mulai dari plastik, botol dan kemasan plastik, kertas, kaleng, aluminium, besi, logam, kaca, dus/kardus hingga berbagai material lain yang masih memiliki nilai guna.

“Tujuanya adalah merangsang kesadaran masyarakat menjaga bumi ini agar terawat dari level terkecil yaitu lingkungan di rumah tangga,” kata dia.

Menurut Luthfi, Lentera Harapan Rakyat memiliki fasilitas pengelolaan limbah terbesar di Priangan Timur. Setelah melalui proses pengelolaan di LHR hingga menjadi bahan setengah jadi, limbah tersebut kemudian dikirim untuk dikelola dan didaur ulang menjadi berbagai produk tertentu oleh PT Alton Waste Management (PT AWM) dan PT Cakra Ahsana Karsa (PT CAK), salah satu perusahaan daur ulang limbah terbesar di Indonesia.

“Ketika sampah memiliki nilai ekonomi, masyarakat tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang harus dibuang. Mereka mulai memilah, mengumpulkan, dan menjaganya,” jelas dia.

0 Komentar