Ketiga, organisasi. Ada keuntungan tersembunyi. Organisasi bisa membeli waktu. Waktu untuk melakukan seleksi. Waktu untuk assessment. Waktu untuk melihat kandidat. Waktu untuk menunggu proses manajemen talenta.
Masalahnya, waktu itu harus dibayar.
Dan yang membayar adalah organisasi. Karena pejabat definitif memiliki kewenangan dan horizon kerja yang lebih jelas.
Sedangkan PLT pada dasarnya adalah jembatan. Jangan sampai jembatan berubah menjadi rumah.
Pemkot Tasikmalaya sebenarnya sudah memiliki perangkat untuk menghindari persoalan regenerasi.
Baca Juga:Enjang Why Not!Prabowo-KDM (Part 8): Menyiapkan Pilihan Cadangan Sebagai Aset Politik Masa Depan
Perwali Kota Tasikmalaya Nomor 21 Tahun 2023 mengatur manajemen talenta ASN dengan tujuan membangun rencana suksesi yang objektif, terencana, tepat waktu dan akuntabel.
Bahkan pada September 2025, Pemkot Tasikmalaya meluncurkan sistem Manajemen Talenta ASN melalui aplikasi MATA RESIK.
Pemkot menyatakan sistem itu diarahkan untuk memastikan pengisian jabatan dilakukan berdasarkan kompetensi, sistem merit dan kebutuhan organisasi.
BKN pun memberikan apresiasi. Artinya, secara teori, Tasikmalaya sudah punya jalan. Pertanyaannya tinggal satu: Apakah jalan itu sudah cukup cepat membawa orang baru ke kursi baru?
Sebab kalau jabatan kosong terus-menerus diisi PLT, sementara nama yang sama terus dipakai, publik berhak bertanya: Manajemen talentanya sedang bekerja atau sedang menunggu?
Hanafi bukan masalahnya. Ini bagian yang penting. Jangan salah alamat. Masalahnya bukan Hanafi.
Kalau ia dianggap kompeten, memahami aturan dan mampu menjalankan beberapa bidang, justru wajar bila ia dipercaya.
Baca Juga:Prabowo, KDM (part 6): Merangkul untuk Mengendalikan!Bambu Apus Bercerita
Masalahnya adalah ketergantungan sistem kepada orang tertentu. Birokrasi yang sehat seharusnya tidak bergantung pada satu-dua orang yang dianggap serba bisa.
Sebab pemerintah daerah bukan perusahaan keluarga. Bukan pula klub yang memiliki pemain cadangan hanya dua orang.
Pemerintah mempunyai puluhan OPD. Ratusan pejabat. Ribuan ASN.Mestinya tersedia cukup banyak nama untuk setiap posisi strategis.
Kalau setiap ada lubang yang muncul orang yang sama lagi, orang yang sama lagi, maka pertanyaan tentang regenerasi menjadi sulit dihindari.
Ada dua cara membaca fenomena Hanafi.
Cara pertama sangat positif. Hanafi adalah pejabat yang dipercaya. Dipercaya karena berpengalaman. Dipercaya karena memahami aturan. Dipercaya karena bisa bekerja tanpa banyak adaptasi.
