TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dalam politik, ada dua cara menghadapi orang yang semakin besar. Mendorongnya menjauh. Atau menariknya semakin dekat.
Sejarah menunjukkan, banyak pemimpin memilih cara kedua. Bukan karena takut. Melainkan karena memahami satu kenyataan sederhana. Orang yang berada di dalam rumah lebih mudah diajak membangun rumah itu daripada orang yang berdiri di luar pagar.
Sosiolog organisasi Philip Selznick menyebut pendekatan itu sebagai co-optation atau kooptasi. Maknanya bukan sekadar mengajak seseorang bergabung.
Baca Juga:Bambu Apus BerceritaPrabowo, KDM (part 5): Sandi Yudha sebagai Strategi Politik!
Lebih dari itu. Memasukkan figur yang memiliki pengaruh ke dalam struktur organisasi sehingga energi, gagasan, dan pengaruhnya ikut memperkuat organisasi tersebut.
Kooptasi bukan identik dengan penaklukan. Ia juga bukan sinonim dari pembungkaman.
Dalam banyak organisasi, kooptasi justru menjadi cara menjaga kesinambungan. Memberi ruang kepada tokoh yang sedang tumbuh, sekaligus mengikatnya pada tujuan bersama.
Jika konsep itu dipakai sebagai pisau analisis, posisi Kang Dedi Mulyadi menjadi menarik. Ia bukan figur yang tumbuh dari luar. Ia adalah kader Gerindra.
Artinya, setiap kenaikan popularitasnya dapat pula dibaca sebagai keberhasilan kaderisasi partai.
Semakin tinggi penerimaan publik terhadap KDM, semakin besar pula peluang Gerindra mengklaim bahwa partainya mampu melahirkan pemimpin dengan daya tarik elektoral.
Dalam logika organisasi, keberhasilan kader adalah juga keberhasilan institusi yang membinanya.
Baca Juga:Prabowo, KDM (part 4): Menurunnya Jarak Elektoral!Gudang Rongsok Mobil di Sambong PLN Kota Tasikmalaya Terbakar
Ada ungkapan lama dalam politik. Pohon yang rindang tidak takut pada cabang yang tumbuh. Selama cabang itu tetap menyatu dengan batangnya. Begitu pula dalam partai. Kader boleh tumbuh besar. Boleh memiliki pengaruh. Boleh dicintai publik.
Namun pertumbuhan itu akan lebih menguntungkan organisasi apabila tetap berada dalam satu ekosistem politik yang sama.
Di situlah hubungan antara pemimpin dan kader menemukan keseimbangannya. Bila dilihat dari perspektif strategi organisasi, membesarkan kader seperti KDM dapat menghadirkan beberapa keuntungan.
Pertama, partai memiliki figur yang mampu berbicara dengan bahasa akar rumput. Gaya komunikasi yang dekat dengan masyarakat membuka pintu bagi kelompok pemilih yang mungkin tidak tersentuh oleh pendekatan politik yang lebih formal.
Kedua, Jawa Barat tetap menjadi wilayah yang memiliki arti strategis dalam peta politik nasional. Memiliki kader dengan basis dukungan kuat di provinsi tersebut tentu menjadi modal penting bagi partai dalam menghadapi dinamika politik ke depan.
