Prabowo, KDM (part 5): Sandi Yudha sebagai Strategi Politik!

Prabowo kdm
Gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dalam peperangan, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki pasukan paling besar. Sering kali ditentukan oleh siapa yang paling sabar membaca waktu.

Politik pun demikian. Tidak semua kemenangan diraih dengan menyerang. Sebagian justru lahir dari kemampuan merangkul.

Istilah Sandi Yudha berasal dari dunia strategi. Ia identik dengan pengumpulan informasi. Pembentukan jaringan. Penggalangan kekuatan. Membaca lawan. Menguasai keadaan tanpa harus selalu memperlihatkan kekuatan secara terbuka.

Baca Juga:Prabowo, KDM (part 4): Menurunnya Jarak Elektoral!Gudang Rongsok Mobil di Sambong PLN Kota Tasikmalaya Terbakar

Dalam konteks politik, istilah itu dapat dipahami sebagai metafora. Bukan operasi rahasia. Melainkan cara berpikir. Cara mengelola kemungkinan. Cara memastikan bahwa setiap langkah hari ini tetap membuka banyak pilihan untuk esok hari.

Prabowo Subianto tampaknya termasuk politisi yang memahami bahwa politik tidak mengenal musuh yang abadi. Yang ada adalah kepentingan yang berubah. Sejarah perjalanan politiknya menunjukkan pola yang menarik.

Kompetisi bisa berlangsung keras. Retorika bisa tajam. Namun setelah pertarungan selesai, pintu rekonsiliasi tetap terbuka.

Lawan politik bisa menjadi mitra. Pesaing dapat duduk di meja yang sama.

Yang kemarin berseberangan, hari ini bisa menjadi bagian dari pemerintahan. Bagi sebagian orang, itu disebut pragmatis. Bagi yang lain, itu adalah seni menjaga stabilitas.

Di sinilah metafora Sandi Yudha menemukan relevansinya. Seorang pemimpin tidak selalu memperkecil orang yang berpotensi besar. Kadang justru sebaliknya. Ia memberi ruang. Mengamati. Menguji. Lalu membiarkan waktu bekerja.

Karena tokoh yang tumbuh di dalam orbit kekuasaan sering kali lebih mudah dipahami daripada tokoh yang berkembang sepenuhnya di luar kendali politik.

Baca Juga:Prabowo, KDM (Part 3): Kebutuhan Masyarakat akan Pemimpin yang Terlihat Bekerja!Prabowo, KDM (Part 2): Dari Politik Kekuasaan Menuju Politik Kehadiran

Fenomena Kang Dedi Mulyadi dapat dibaca dari sudut pandang itu. Popularitasnya yang terus meningkat tidak otomatis harus dipandang sebagai ancaman.

Dalam politik, seorang kader yang kuat juga merupakan aset. Ia memperluas daya jangkau partai. Membuka ceruk pemilih baru.

Menjadi wajah yang dapat menjangkau kelompok masyarakat yang mungkin tidak tersentuh oleh gaya kepemimpinan nasional.

Membesarkan seorang kader bukan selalu berarti sedang menciptakan pesaing. Bisa jadi sedang memperkuat rumah yang sama.

Namun strategi seperti ini selalu memiliki dua sisi. Semakin besar ruang yang diberikan kepada seorang kader, semakin besar pula peluang lahirnya pusat gravitasi politik baru.

0 Komentar