TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Politik memiliki hukum yang unik. Yang menentukan bukan selalu siapa yang paling banyak bekerja. Melainkan siapa yang paling banyak dirasakan hasil kerjanya.
Di situlah sering kali angka survei berubah arah. Bukan karena pidato. Bukan karena baliho. Tetapi karena isi dompet.
Prabowo Subianto memasuki masa kepemimpinannya dengan modal politik yang sangat besar. Ia memenangkan pemilihan presiden dengan dukungan luas.
Baca Juga:Gudang Rongsok Mobil di Sambong PLN Kota Tasikmalaya TerbakarPrabowo, KDM (Part 3): Kebutuhan Masyarakat akan Pemimpin yang Terlihat Bekerja!
Menguasai pemerintahan. Didukung koalisi yang kokoh. Memiliki legitimasi sebagai pemimpin nasional.
Namun politik tidak mengenal tabungan elektoral yang berlaku selamanya. Setiap hari, rakyat melakukan pemilu kecil di dalam pikirannya.Bukan di bilik suara. Melainkan di pasar. Di warung. Di tempat kerja. Di meja makan keluarga.
Ilmu politik menyebutnya retrospective voting. Pemilih menilai pemerintah bukan terutama dari janji yang diucapkan. Tetapi dari pengalaman yang mereka rasakan.
Mereka mungkin tidak hafal angka pertumbuhan ekonomi. Tidak memahami inflasi inti. Tidak membaca laporan fiskal.
Tetapi mereka tahu apakah harga beras naik. Apakah mencari pekerjaan semakin sulit.
Apakah biaya sekolah terasa lebih berat. Apakah pelayanan publik menjadi lebih mudah. Rakyat tidak menghitung indikator makro. Mereka menghitung pengeluaran rumah tangga.
Di sinilah tantangan setiap presiden dimulai. Keberhasilan makro belum tentu otomatis menjadi kepuasan mikro. Sebuah negara bisa mencatat pertumbuhan ekonomi yang baik.
Baca Juga:Prabowo, KDM (Part 2): Dari Politik Kekuasaan Menuju Politik KehadiranPrabowo, KDM, dan Politik Sandi Yudha (Part 1)
Investasi meningkat. Industri berkembang. Pembangunan berjalan. Namun jika manfaatnya belum terasa di dapur keluarga, statistik kehilangan daya persuasi. Karena rakyat tidak hidup di dalam grafik. Mereka hidup dalam kenyataan sehari-hari.
Bila jarak antara keberhasilan pemerintah dan pengalaman masyarakat semakin lebar, persepsi pun berubah. Bukan karena rakyat menolak pembangunan. Melainkan karena mereka belum merasa ikut menikmatinya.
Dan ketika ruang persepsi itu terbuka, politik selalu menghadirkan tokoh yang mampu mengisinya. Di situlah nama Kang Dedi Mulyadi mulai memperoleh panggung yang lebih luas. Bukan semata karena ia berbicara lebih keras.
Melainkan karena ia berbicara dalam bahasa yang paling mudah dipahami rakyat. Bahasa tindakan.
KDM menawarkan narasi yang sederhana. Pemimpin harus hadir. Pemimpin harus terlihat bekerja. Pemimpin harus berani mengambil keputusan. Narasi itu tidak rumit. Justru karena sederhana, ia mudah diterima.
