Prabowo, KDM (part 6): Merangkul untuk Mengendalikan!

Prabowo kdm
Gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

Ketiga, organisasi memiliki lebih banyak pilihan ketika menghadapi perubahan konfigurasi politik. Dalam politik, memiliki alternatif sering kali sama pentingnya dengan memiliki kekuatan.

Namun, kooptasi bukanlah hubungan satu arah. Organisasi memang memperoleh manfaat. Tetapi kader juga memperoleh panggung. Ia mendapatkan legitimasi.

Akses terhadap sumber daya politik. Jaringan yang lebih luas. Dan kesempatan menunjukkan kapasitas kepemimpinannya.

Baca Juga:Bambu Apus BerceritaPrabowo, KDM (part 5): Sandi Yudha sebagai Strategi Politik!

Hubungan itu menjadi simbiosis ketika kedua belah pihak sama-sama melihat masa depan yang sejalan. Tetapi di situlah pula tantangannya.

Semakin besar panggung yang diberikan, semakin besar pula ekspektasi publik. Popularitas yang terus meningkat akan diikuti tuntutan yang semakin tinggi.

Seorang kader tidak lagi dinilai hanya dari kesetiaannya kepada partai. Ia juga dinilai dari kemampuannya memenuhi harapan masyarakat.

Di titik itu, loyalitas kepada organisasi dan legitimasi dari rakyat harus berjalan berdampingan. Tidak selalu mudah. Tetapi itulah ujian sesungguhnya bagi seorang pemimpin politik.

Pada akhirnya, politik bukan hanya tentang membangun tokoh. Ia juga tentang membangun organisasi yang mampu melahirkan banyak tokoh.

Karena organisasi yang sehat tidak takut melahirkan kader-kader besar. Sebaliknya, ia menjadikan kebesaran para kader sebagai bagian dari kebesarannya sendiri.

Mungkin itulah makna terdalam dari konsep kooptasi. Bukan meredupkan cahaya orang lain. Melainkan memastikan cahaya itu tetap menerangi rumah yang sama.

Baca Juga:Prabowo, KDM (part 4): Menurunnya Jarak Elektoral!Gudang Rongsok Mobil di Sambong PLN Kota Tasikmalaya Terbakar

Dan dalam politik, rumah yang mampu merawat kader-kader terbaik biasanya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan melampaui satu generasi kepemimpinan. (red)

0 Komentar