Saya ikut tertawa. Olahraga rupanya benar-benar membawa hasil. Berat badannya kini tinggal 74 kilogram. Dulu 83 kilogram. Turun sembilan kilogram.
Angka itu tidak datang karena obat. Tidak pula karena operasi. Tetapi karena disiplin.
Menjaga pola makan. Mengurangi yang berlebihan. Dan terus bergerak.
Di usia enam puluh empat tahun, ia justru terlihat semakin serius menjaga kesehatannya. Minuman favoritnya kini lebih sering air jeruk dan matcha.
Baca Juga:Prabowo, KDM (part 5): Sandi Yudha sebagai Strategi Politik!Prabowo, KDM (part 4): Menurunnya Jarak Elektoral!
Selesai berbincang di pendopo, saya diajak berkeliling kawasan rumah. Luasnya ternyata tidak sampai satu hektare.
Namun penataannya membuat kawasan itu terasa lapang. Ia kemudian menunjukkan sebuah rumah yang baru dibelinya.
“Ini nanti untuk transit tamu,” katanya.
Di pinggirnya tersedia lahan parkir yang mampu menampung sekitar 50 mobil. Saya langsung membayangkan betapa seringnya rumah itu menerima tamu.
Tentu bukan tanpa alasan. Lokasi Bambu Apus memang memiliki cerita tersendiri.
Di kawasan itu berdiri pula kediaman sejumlah tokoh nasional. Di antaranya almarhum Jenderal Try Sutrisno serta Jenderal (Purn.) Wiranto.
Mungkin karena itu, suasana lingkungan terasa tenang. Tetapi percakapannya sering kali menentukan arah yang tidak sederhana.
Saya menyadari satu hal. Politik ternyata tidak selalu berlangsung di ruang rapat. Tidak selalu lahir dari podium. Tidak pula selalu dimulai dari pidato.
Baca Juga:Gudang Rongsok Mobil di Sambong PLN Kota Tasikmalaya TerbakarPrabowo, KDM (Part 3): Kebutuhan Masyarakat akan Pemimpin yang Terlihat Bekerja!
Kadang ia tumbuh dari secangkir kopi. Dari langkah kaki sepanjang belasan kilometer.
Dari obrolan santai di sebuah pendopo. Dari silaturahmi yang tidak dijadwalkan untuk menghasilkan keputusan apa pun.
Namun justru dari ruang-ruang seperti itulah sering lahir cara pandang baru.
Saya pulang menjelang petang. Membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Tetapi mungkin memang begitulah fungsi sebuah silaturahmi. Bukan untuk menyepakati semuanya. Melainkan untuk memahami cara orang lain melihat masa depan. Dan di Bambu Apus, percakapan seperti itu masih terus hidup. (red)
