Ia menegaskan seluruh masyarakat berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang adil dan bermutu tanpa membedakan status pembiayaan.
Sementara itu, Direktur RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya dr Budi Tirmadi menjelaskan pihak rumah sakit telah melakukan pemeriksaan terhadap NZ setelah kasus tersebut mencuat.
Hasil penelusuran menunjukkan yang bersangkutan bukan tenaga kesehatan, melainkan staf administrasi berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Baca Juga:Komentar Pegawai RSUD dr Soekardjo Viral, Dinkes Tasikmalaya Tegaskan Etika Profesi Tak Boleh Gugur di MedsosEmpati Tak Boleh Kalah oleh Jemari! Komentar Pegawai RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya Viral Berujung Pemeriksaan
Meski demikian, menurut dr Budi, tindakan tersebut tetap berdampak terhadap nama baik rumah sakit sehingga manajemen telah membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan akan berkoordinasi dengan BKPSDM serta Inspektorat Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk proses lebih lanjut sesuai ketentuan.
Ia juga menegaskan kasus tersebut merupakan tindakan pribadi dan tidak berkaitan dengan pelayanan RSUD dr Soekardjo karena pasien yang bersangkutan tidak menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Dr Budi mengaku menyayangkan peristiwa tersebut karena dinilai mencoreng citra institusi yang selama ini dibangun.
“Kami susah payah membangun citra rumah sakit, tetapi bisa dirusak oleh satu orang. Ini menjadi introspeksi bagi kami semua,” tegasnya.
Kasus ini bermula dari unggahan seorang pasien di platform Threads yang mengaku harus menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan kamar rumah sakit.
Unggahan itu kemudian viral dan memancing berbagai komentar, termasuk komentar bernada kasar dari akun yang diduga milik NZ.
Perhatian publik semakin besar setelah pasien tersebut dikabarkan meninggal dunia sekitar sepekan kemudian. Namun, peristiwa pelayanan rumah sakit yang dikeluhkan terjadi di luar Kota Tasikmalaya dan bukan di RSUD dr Soekardjo.
Baca Juga:SMKN 3 Tasikmalaya Tembus 10 Besar FTRN Nasional, Teater Gawe Buktikan Kreativitas Tak TerbatasKolaborasi dengan ATR/BPN Jadi Strategi Pemkot Tasikmalaya Perkuat Tata Kelola untuk Dongkrak PAD
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa media sosial bukan ruang tanpa konsekuensi. Ketika empati tergelincir oleh jemari, yang dipertaruhkan bukan hanya nama pribadi, tetapi juga kepercayaan publik terhadap institusi pelayanan kesehatan. (rezza rizaldi)
