TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Perbaikan Jalan Lingkar Pasar Cikurubuk akhirnya mulai berjalan. Namun, penanganan yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya masih sebatas pemeliharaan rutin berupa tambal sulam di titik-titik jalan yang berlubang.
Langkah tersebut dilakukan sembari menunggu kepastian anggaran rehabilitasi total senilai Rp15,4 miliar yang hingga kini belum juga terealisasi.
Alhasil, jalan yang menjadi jalur utama aktivitas perdagangan itu masih harus “bertahan napas” lewat penanganan sementara.
Baca Juga:OJK Tasikmalaya Bentengi Guru dari Pinjol Ilegal dan Judi Online Lewat Program GENIUSKualitas Pembiayaan Jadi Motor Laba BTPN Syariah, Pembiayaan Tumbuh 9 Persen
Staf Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUTR Kota Tasikmalaya, Heri Wibowo menjelaskan, pekerjaan pemeliharaan sebenarnya sudah direncanakan sejak awal tahun.
Pelaksanaannya dilakukan bertahap berdasarkan tingkat prioritas kerusakan di lapangan.
“Perencanaan sudah dari awal tahun. Pemeliharaan dilakukan sesuai skala prioritas, mana yang harus didahulukan berdasarkan kondisi kerusakan,” ujarnya kepada Radar Tasikmalaya, Kamis (30/7/2026).
Untuk pekerjaan yang sedang berlangsung, kata dia, ditargetkan selesai dalam dua hari.
Penanganan dilakukan pada ruas sekitar 150 meter persegi, mulai dari kawasan pertigaan Arjawinangun hingga Jalan Paseh jalur dua.
Menurut Heri, metode yang digunakan bukan pelapisan ulang seluruh badan jalan, melainkan patching atau penambalan pada titik-titik jalan yang berlubang.
“Karena ini pemeliharaan rutin, jadi hanya spot-spot yang berlubang saja yang ditangani. Bukan seluruh badan jalan diaspal ulang,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi jalan yang kerap tergenang air membuat proses penambalan membutuhkan material yang lebih kuat dibanding metode biasa.
Baca Juga:Gerakan Pangan Murah di Tamansari Tasikmalaya Jawab Tantangan Harga! Kolaborasi DPR RI, DPD RI dan PemkotCibangbay Cup 2026 Jadi Panggung Tarkam Talenta Lokal, 23 Tim Berebut Piala Ketua PSSI Kota Tasikmalaya
Untuk itu, PUTR menggunakan Cement Treated Base (CTB) atau lapis pondasi agregat yang dicampur semen sebelum dilapisi aspal.
“Karena kondisi tanahnya jenuh air, kami gunakan CTB supaya lebih kuat. Kalau lubangnya tidak terlalu dalam biasanya cukup hotmix saja, tetapi untuk kondisi seperti ini perlu pondasi yang lebih kokoh,” jelasnya.
Sementara itu, salah seorang pedagang yang sehari-hari beraktivitas di sekitar lokasi, Ade Siti Nurjanah (56), mengakui kerusakan jalan sudah lama dikeluhkan warga maupun pengguna jalan.
Menurutnya, saat hujan turun, lubang di badan jalan sering tertutup genangan sehingga membahayakan pengendara, terutama pada malam hari.
“Kalau hujan banjirnya besar. Lubangnya tidak kelihatan, jadi sering membahayakan. Mudah-mudahan setelah ditambal bisa awet,” tuturnya.
