Dampak Kekeringan, Harga Air Bersih di Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya Rp 3.000 Per Jerigen

harga air bersih
Warga Desa Jayapura, Kecamatan Cigalontang, menjual air bersih dalam jerigen kepada masyarakat yang terdampak kekeringan, Kamis (23/7/2026). (Istimewa)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dampak musim kemarau mulai dirasakan masyarakat di Desa Jayapura, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. Selama kurang lebih dua bulan terakhir, warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih hingga terpaksa membeli air dalam jerigen untuk memenuhi kebutuhan memasak, mandi, dan mencuci, Kamis (23/7/2026).

Kecamatan Cigalontang menjadi salah satu wilayah di Kabupaten Tasikmalaya yang terdampak kekeringan. Mengeringnya sejumlah sumber air membuat pasokan air bersih semakin terbatas, tidak hanya untuk kebutuhan pertanian, tetapi juga kebutuhan rumah tangga.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, membenarkan bahwa Kecamatan Cigalontang termasuk daerah yang terdampak kekeringan.

Baca Juga:Ulama dan Ormas Islam Datangi DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Ajukan Naskah Akademik Raperda Ketahanan KeluargaDisdikbud Kabupaten Tasikmalaya Sebut Pembangunan Kelas Baru SDN Kubangsari Taraju Belum Masuk Rencana

Ia menjelaskan, pemerintah desa maupun kecamatan dapat mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih kepada BPBD dengan menyertakan data lokasi warga yang terdampak.

“Iya BPBD ketika ada usulan dari kecamatan akan menindaklanjuti usulan pendistribusian air bersih tersebut. Berkolaborasi dengan Perumda Air Minum Tirta Sukapura dan Tagana,” terang Roni.

Kondisi kekeringan yang berlangsung sekitar dua bulan di Desa Jayapura menyebabkan banyak mata air mengering. Akibatnya, warga kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari, sementara pasokan untuk sawah dan kolam juga ikut terdampak.

Di tengah kondisi tersebut, seorang warga bernama Tino (30) memanfaatkan peluang dengan menjual air bersih kepada masyarakat. Setiap hari sejak pukul 06.00 WIB, ia mengantarkan air menggunakan sepeda motor ke rumah-rumah warga yang telah memesan.

“Lumayan sehari bisa laku 30 kadang 45 jerigen pa,” ungkap Tino, penjual air musiman.

Dalam sekali pemesanan, warga umumnya membeli sedikitnya enam jerigen. Air berkapasitas 30 liter per jerigen itu dijual seharga Rp3.000.

Tino mengaku baru sekitar satu bulan menjalankan usaha tersebut. Awalnya ia hanya mengambil air untuk kebutuhan keluarganya sendiri, namun permintaan dari warga terus bertambah hingga akhirnya menjadi pekerjaan sehari-hari.

Baca Juga:SDN Kubangsari Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Rusak Berat, Siswa Belajar di MadrasahMantapkan Langkah Menuju Kemenangan, Ini Target PAN Kabupaten Tasikmalaya

“Awalnya cuma mengambil air untuk kebutuhan pribadi saja, lalu ada yang nyuruh akhirnya banyak yang pesan, hingga sekarang tiap hari malah makin banyak yang pesan,” ujarnya.

Bagi warga, keberadaan penjual air seperti Tino sangat membantu di tengah sulitnya memperoleh air bersih. Meski harus mengeluarkan biaya tambahan, mereka menilai layanan tersebut menjadi solusi sementara selama musim kemarau.

0 Komentar