Ekonomi Kota Tasikmalaya Tumbuh 6,97 Persen, Penguatan Fundamental Masih Jadi Tantangan

Ekonomi Kota Tasikmalaya
Dr(c) Ganjar Santika SEI ME, Dosen STEI Fitrah Insani Bandung.
0 Komentar

Namun, menurutnya, kondisi tersebut belum dirasakan secara merata karena sebagian pelaku usaha kecil masih mengeluhkan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

Sebagai perbandingan, Ganjar menyoroti karakter ekonomi sejumlah daerah di Priangan Timur. Menurutnya, Pangandaran yang mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 8,17 persen memperoleh dorongan kuat dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Sementara Kabupaten Ciamis yang tumbuh 6,88 persen ditopang sektor pertanian dan perdagangan.

Baca Juga:Telkomsel Tutup Semarak Piala Dunia 2026 dengan Nobar Final di Lebih dari 40 Titik Jabotabek JabarBPJS Ketenagakerjaan Bayarkan Manfaat Rp 68,24 Triliun pada 2025, Jutaan Pekerja Rasakan Perlindungan Nyata

Meski memiliki karakter ekonomi yang berbeda dengan daerah lain di Priangan Timur, Ganjar menilai Kota Tasikmalaya memiliki modal yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, besarnya jumlah pelaku UMKM dan berkembangnya industri kreatif, seperti bordir, kelom geulis, dan payung geulis menjadi salah satu kekuatan ekonomi daerah.

Namun, ia menilai Kota Tasikmalaya masih menghadapi tantangan berupa terbatasnya investasi baru, belum berkembangnya industri pengolahan dalam skala besar, serta rendahnya hilirisasi produk unggulan.

Ia juga mengutip data Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya yang menunjukkan jumlah UMKM meningkat dari sekitar 24.060 unit pada 2023 menjadi hampir 25 ribu unit pada 2024 atau bertambah sekitar 910 pelaku usaha.

Menurutnya, perkembangan tersebut merupakan sinyal positif. Namun, tantangan saat ini bukan lagi sekadar menambah jumlah UMKM, melainkan meningkatkan produktivitas dan daya saing agar mampu menghasilkan omzet yang lebih besar, memperluas pasar, serta menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Ganjar menilai tingginya pertumbuhan ekonomi belum dapat disebut sebagai pertumbuhan yang berkualitas apabila belum diikuti penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, meningkatnya pendapatan masyarakat, pemerataan kesejahteraan, serta meningkatnya kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, menurutnya, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak cukup diukur dari laju pertumbuhan semata, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

Baca Juga:MOMOYO dan KITABISA Hadirkan Campaign Momoyo untuk 1000 Mimpi Anak Sepak Bola IndonesiaMessi Mati Kutu, Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Lewat Gol Ferran Torres di Babak Tambahan

Meski menilai kualitas pertumbuhan masih perlu diperkuat, Ganjar memproyeksikan laju ekonomi Kota Tasikmalaya hingga akhir 2026 tetap berada dalam tren positif. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi masih berpotensi bertahan pada kisaran 6,5 hingga 7 persen apabila inflasi terkendali dan tidak terjadi gejolak ekonomi global yang signifikan.

Di sisi lain, ia mengingatkan pemerintah daerah tetap perlu mengantisipasi risiko perlambatan daya beli masyarakat, kenaikan harga pangan, serta terbatasnya penciptaan lapangan kerja baru.

0 Komentar