Namun, ia menilai jika gol itu terjadi, hasil tersebut tetap tidak akan mencerminkan jalannya pertandingan.
“Hanya pada menit terakhir dari 120 menit pertandingan mereka hampir menyamakan kedudukan melalui Giuliano Simeone. Jika gol itu terjadi, hasil tersebut akan sangat tidak pantas melihat jalannya laga,” ujarnya.
Meski Messi gagal membawa Argentina mempertahankan gelar juara dunia, Sabatini tetap menilai kapten Albiceleste itu masih berada di level yang jauh di atas Lamine Yamal.
Baca Juga:Rekor Baru Spanyol usai Juara Piala Dunia 2026: Cuma Kebobolan Satu Gol dan Catat 38 Laga Tanpa KalahSpanyol Tumbangkan Argentina, Ramalan Ronaldo Jadi Kenyataan
Ia menganggap kekalahan di final tidak mengurangi kebesaran karier internasional Messi yang telah dipenuhi berbagai prestasi, termasuk membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022.
“Messi mengakhiri Piala Dunia ini dan mungkin juga karier internasionalnya yang luar biasa. Ia memang kalah di final, tetapi tetap memenangkan perbandingan yang hingga saat ini masih sulit disejajarkan dengan Lamine Yamal,” tulis Sabatini.
Menurutnya, Yamal memang merupakan talenta luar biasa yang menjadi bagian dari generasi emas Spanyol.
Namun, pemain muda Barcelona itu masih belum mencapai level yang pernah ditunjukkan Messi selama bertahun-tahun bersama Argentina.
Sabatini juga menduga performa Yamal di final sedikit dipengaruhi kondisi fisiknya yang belum sepenuhnya pulih setelah sempat mengalami masalah cedera selama turnamen.
Di sisi lain, ia memberikan pujian khusus kepada Ferran Torres yang tampil sebagai pembeda pada laga final.
“Spanyol menemukan sosok penentu dalam diri Ferran Torres. Ia mencetak gol yang sangat penting ketika pertandingan tampaknya akan berlanjut hingga adu penalti,” tulis Sabatini.
Baca Juga:Messi Menangis, Spanyol Berpesta! Ferran Torres Pastikan Gelar Juara Piala Dunia 2026Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Gol Semata Wayang Ferran Torres Hancurkan Mimpi Argentina
Menurutnya, jika laga tersebut harus ditentukan melalui adu penalti, hasil itu justru akan terasa tidak adil karena sepanjang pertandingan hanya Spanyol yang benar-benar berinisiatif menyerang.
“Bagi sejarah sepak bola, adu penalti akan menjadi akhir yang paling tidak adil. Dalam final ini hanya Spanyol yang bermain dan hanya Spanyol yang terus melepaskan tembakan ke arah gawang,” tegasnya.
Sabatini menutup analisanya dengan menyebut Argentina lebih banyak bertahan dan mengandalkan permainan fisik untuk meredam agresivitas para pemain Spanyol.
Kemenangan 1-0 melalui gol Ferran Torres akhirnya memastikan Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia 2026.
