Bu Nofa memulai dari sebuah kenyataan. Ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Daya beli masyarakat melemah. Banyak sektor usaha mulai merasakan perlambatan.
Kalau keadaan ini dibiarkan, roda ekonomi akan berputar semakin pelan. Karena itu diperlukan sebuah momentum. Momentum yang mampu menggerakkan masyarakat untuk kembali bertransaksi.
Momentum yang membuat seluruh pelaku usaha bergerak bersama. Dari sanalah lahir konsep Tasikmalaya Great Sale. Bukan sekadar pesta diskon. Tetapi gerakan ekonomi.
Baca Juga:Dituding Sebabkan Kekeringan Irigasi Pertanian di Tasikmalaya, BBWS Citanduy Beri Penjelasan BeginiSaat Bupati dan Wakil Tidak Berebut Cahaya
Konsepnya diberi nama One City, One Sales, Movement and Full Impact. Satu kota. Satu gerakan. Satu dampak.
Setelah Bu Nofa, giliran Kang Asep Saepulloh berbicara. Paparannya lebih teknis. Tetapi justru di situlah saya mulai melihat arah besar kegiatan ini.
Kang Asep bukan ingin membuat festival baru yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah. Sebaliknya.
Ia ingin menyatukan semua kegiatan yang selama ini sudah berjalan. Festival kuliner.
Muslim Fair. Pameran UMKM. Agenda komunitas. Event hotel. Program pusat perbelanjaan.
Semuanya dimasukkan ke dalam satu payung besar bernama Tasikmalaya Great Sale. Saya langsung teringat satu kota.
Solo. Solo juga tidak punya pantai. Tidak punya gunung.
Tetapi hampir setiap pekan selalu punya alasan agar orang datang. Yang dijual bukan alam. Yang dijual adalah event.
Baca Juga:MAN 1 Tasikmalaya Dorong Guru Lebih Adaptasi dengan TeknologiJangan Diajukan Terus, Pak Kadis… Realisasikan!
Pengalaman. Peristiwa. Dan ternyata orang datang. Hotel penuh. Warung ramai. Transportasi hidup. Ekonomi bergerak.
Mungkin Tasikmalaya sedang mencoba memasuki jalan yang sama.
Yang membuat saya semakin tertarik adalah cara berpikirnya. Tidak semua peserta harus memberi diskon yang sama.
Tidak ada kewajiban potongan harga 70 persen. Tidak ada aturan membeli satu gratis satu.
Merchant bebas menentukan promosi. Diskon. Voucher. Bundling. Flash sale. Yang penting seluruh kota bergerak bersama.
Bayangkan. UMKM ikut. Coffee shop ikut. Hotel ikut. Restoran ikut. Marketplace ikut.
Pelaku ekonomi kreatif ikut. Semuanya memakai satu identitas. Satu logo. Satu semangat. Tasikmalaya Great Sale.
Lebih menarik lagi ketika pembahasan memasuki dunia digital. TikTok akan diajak menjadi panggung promosi. Komunitas afiliator akan dilibatkan. Puluhan influencer Jawa Barat direncanakan ikut mengampanyekan TGS. Live shopping. Konten video. Kompetisi kreator.
