Cecep dan Asep tampaknya memilih menjaga garis itu. Ketika bupati memiliki agenda di luar daerah, wakil hadir mengamankan roda pemerintahan.
Begitu pula sebaliknya. Tidak ada kesan saling meninggalkan. Tidak ada ruang kosong dalam kepemimpinan. Pemerintahan tetap berjalan.
Harmonisasi seperti ini menjadi sesuatu yang mahal dalam politik hari ini. Banyak pasangan kepala daerah yang awalnya terlihat mesra.
Baca Juga:MAN 1 Tasikmalaya Dorong Guru Lebih Adaptasi dengan TeknologiJangan Diajukan Terus, Pak Kadis… Realisasikan!
Namun setelah beberapa bulan, mulai muncul perbedaan. Ada yang saling sindir. Ada yang mulai menjaga jarak. Ada pula yang akhirnya berjalan dengan kelompok masing-masing.
Karena itu, ketika sebuah pasangan mampu menjaga kekompakan, publik tentu memberi perhatian. Sebab stabilitas politik adalah modal pembangunan.
Kabupaten Tasikmalaya saat ini membawa narasi baru: “Tasik Era Baru.” Dan era baru bukan hanya tentang jalan yang dibangun. Bukan hanya tentang program yang diluncurkan. Tetapi juga tentang cara memimpin.
Pemimpin baru membutuhkan budaya baru.
Budaya saling percaya. Budaya saling menguatkan. Budaya tidak berebut keberhasilan.
Tentu perjalanan Cecep-Asep masih panjang. Masa jabatan 2025-2030 baru memasuki bab awal. Tantangan besar masih menunggu. Kemiskinan. Lapangan kerja. Pendidikan. Infrastruktur. Investasi.
Semua membutuhkan energi besar. Namun satu modal penting sudah terlihat. Mereka tidak memulai pemerintahan dengan konflik internal. Mereka memulai dengan harmoni.
Dan sering kali, daerah yang pemimpinnya kompak memiliki peluang lebih besar untuk bergerak cepat. Karena energi pemerintah tidak habis untuk saling menjatuhkan.
Energi itu bisa digunakan untuk membangun. Mungkin inilah makna sebenarnya dari Tasik Era Baru. Bukan hanya pergantian orang. Tetapi perubahan cara memimpin.
Baca Juga:Doktor Dadaha!Isyarat Budi Budiman!
Dua orang. Satu tujuan. Membawa Kabupaten Tasikmalaya menuju masa depan yang lebih baik. (red)
