Kader Posbindu Dibekali Deteksi Dini PTM, Puskesmas Sukarame Tasikmalaya Perkuat Pencegahan Hipertensi

Puskesmas sukarame
Kader Posbindu mengikuti penyuluhan pencegahan penyakit tidak menular (PTM) yang digelar Puskesmas Sukarame sebagai upaya memperkuat deteksi dini dan edukasi kesehatan masyarakat. (Istimewa)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Puskesmas Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, memperkuat upaya pencegahan penyakit tidak menular (PTM) dengan membekali kader Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) kemampuan deteksi dini, skrining kesehatan, serta edukasi kepada masyarakat.

Kegiatan penyuluhan yang digelar di Aula Puskesmas Sukarame, Rabu (15/7/2026), ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas kader sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di lingkungan masing-masing.

Kepala Puskesmas Sukarame, Aceng Bastari, S.Kep., Ners., mengatakan kader memiliki peran strategis dalam pengendalian PTM karena menjadi garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Baca Juga:Semangat TMMD ke-129, Menyulap Desa Parungponteng Kabupaten TasikmalayaKomisi I DPRD Kabupaten Tasikmalaya Sebut Pemilihan Dewas RSUD KHZ Musthafa Tidak Sah

“Keberhasilan pengendalian PTM sangat bergantung pada deteksi dini dan upaya pencegahan yang dilakukan sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat,” ujarnya.

Menurut Aceng, penyuluhan diberikan agar kader memahami karakteristik penyakit tidak menular sekaligus mampu menyampaikan edukasi kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami.

Ia menjelaskan, PTM merupakan kelompok penyakit yang tidak menular dari satu orang ke orang lain, tetapi berkembang secara perlahan sehingga kerap tidak disadari penderitanya hingga memasuki kondisi yang lebih berat.

Tiga jenis PTM yang paling banyak ditemukan di masyarakat, lanjut Aceng, yakni hipertensi atau tekanan darah tinggi, diabetes melitus, serta penyakit jantung dan stroke. Ketiganya berpotensi menimbulkan komplikasi apabila tidak dikendalikan sejak dini.

Dalam kegiatan tersebut, kader dibekali pemahaman mengenai berbagai faktor risiko PTM, seperti pola makan tinggi gula, garam, lemak dan gorengan, kurang aktivitas fisik, kurang istirahat, stres, usia di atas 45 tahun, faktor keturunan, hingga kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol.

“Kader jangan hanya menyampaikan istilah medis. Gunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Misalnya menyebut hipertensi sebagai darah tinggi. Edukasi akan lebih efektif jika disampaikan dengan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” katanya.

Selain memahami faktor risiko, kader juga mendapatkan pembekalan mengenai tugas Posbindu PTM, mulai dari mengukur tekanan darah, gula darah, berat badan, tinggi badan, hingga lingkar perut warga.

Baca Juga:Kalahkan Dua Pejabat Internal Pemkab, Kurniawan Resmi Dilantik sebagai Sekda Kabupaten TasikmalayaPerkuat Mitigasi Risiko Proyek, PT Askrindo dan Dinas PUTRLH Kabupaten Tasikmalaya Jalin Kerja Sama

Mereka juga didorong mengedukasi masyarakat menerapkan gerakan CERDIK, yakni cek kesehatan secara berkala, enyahkan rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.

0 Komentar