Rp3,6 Miliar untuk Mengolah Apa? Jangan Sampai Terjadi Kebakaran di TPA Ciangir!

Ipal TPA Ciangir
Ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pemerintah kadang memiliki kebiasaan yang unik. Kalau ada sesuatu yang rusak, bukan diperbaiki. Tetapi dibuat yang baru.

Seolah-olah membangun selalu lebih menarik daripada menghidupkan kembali.

Begitulah kisah di TPA Ciangir. Jauh sebelum proyek IPAL senilai Rp3,6 miliar menjadi perbincangan, sebenarnya tempat itu sudah memiliki sistem pengolahan air lindi.

Dibangun sekitar tahun 2012. Teknologinya bukan teknologi sembarangan. Ada proses biologis. Ada bak anaerob. Ada bak aerob.

Baca Juga:Mengubah Wajah Kabupaten Tasikmalaya Menjadi Ramah terhadap Pembangunan InfrastrukturTasik: Kota Miskin, TPP Kaya!

Ada beberapa kolam pengolahan. Air lindi—cairan hitam pekat hasil pembusukan sampah—diolah secara bertahap sebelum akhirnya dialirkan melalui saluran khusus menuju Sungai Cikalang.

Warnanya memang masih hitam. Tetapi, menurut konsep pengolahannya saat itu, kualitas air buangan telah memenuhi baku mutu lingkungan. Artinya… Sistem itu pernah bekerja.

Lalu tahun berganti. Sekitar 2021. Sistem itu berhenti. Yang mengherankan, bukan karena teknologinya mustahil. Bukan pula karena konsepnya salah. Tetapi karena tidak lagi berfungsi.

Pertanyaannya sederhana. Mengapa tidak diperbaiki? Mengapa tidak direvitalisasi?Mengapa justru memilih membangun IPAL baru?

Bukankah lebih murah menghidupkan mesin yang tidur daripada membeli mesin baru yang bahkan belum tentu langsung bekerja?

Dalam dunia teknik lingkungan, setiap instalasi memiliki kriteria desain. Tidak asal bangun. Tidak asal cor. Tidak asal pasang pipa. Semua harus menjawab satu pertanyaan mendasar. Limbah apa yang akan diolah? Karakteristiknya bagaimana?

Debitnya berapa? Teknologinya apa? Output akhirnya ke mana?

Kalau pertanyaan itu belum terjawab secara utuh, maka bangunan secanggih apa pun hanya menjadi monumen beton. Karena pengolahan limbah bukan soal membuat gedung. Tetapi memahami limbahnya.

Baca Juga:Kota Priiit… Priiit… Priiit!Bea Cukai dan BNN Gagalkan Penyelundupan 3,37 Ton Ganja Asal Thailand

Pertanyaan berikutnya menjadi semakin menarik. IPAL yang baru itu sebenarnya untuk mengolah apa? Air lindi? Kalau air lindi, bukankah sistemnya sudah pernah ada? Kalau bukan air lindi, lalu limbah apa?

Kalau jawabannya tetap air lindi, mengapa sistem lama tidak dimanfaatkan? Kalau memang perlu teknologi baru, apa kelemahan teknologi lama?

Pertanyaan-pertanyaan itu layak dijawab secara terbuka, agar publik memahami dasar pengambilan kebijakan.

Yang membuat warga semakin heran adalah alasan yang muncul belakangan. Listrik. Lagi-lagi listrik. Padahal persoalan utama TPA bukan hanya listrik.

0 Komentar