Ada ancaman yang jauh lebih serius. Gas. Di dalam gunungan sampah, setiap hari terjadi proses pembusukan. Proses itu menghasilkan gas, termasuk gas metana. Gas ini tidak terlihat. Tidak berwarna.
Tetapi bisa menjadi sangat berbahaya bila terperangkap di dalam timbunan sampah.
Dalam teori pengelolaan TPA, gas itu harus dikeluarkan melalui sistem ventilasi atau sumur gas. Pipa-pipa vertikal dibor secara berkala agar gas memiliki jalan keluar. Kalau tidak…Tekanan akan terus bertambah. Bukan api yang datang lebih dulu.
Baca Juga:Mengubah Wajah Kabupaten Tasikmalaya Menjadi Ramah terhadap Pembangunan InfrastrukturTasik: Kota Miskin, TPP Kaya!
Tetapi gas yang mencari jalan keluar. Begitu bertemu pemicu, kebakaran bisa terjadi dari dalam timbunan sampah. Api muncul bukan karena seseorang membakar.
Melainkan karena gas yang lama terkurung akhirnya menemukan saatnya. Itulah sebabnya banyak TPA di berbagai daerah mengalami kebakaran bawah tanah yang sulit dipadamkan.
Mungkin inilah saatnya perhatian tidak hanya tertuju pada IPAL. Tetapi juga pada keselamatan TPA secara keseluruhan.
Karena kalau gas tidak dikelola dengan baik, persoalannya bukan lagi soal proyek yang mangkrak. Melainkan potensi bencana lingkungan.
Membangun memang penting. Tetapi merawat jauh lebih penting. Teknologi yang sudah ada seharusnya dievaluasi: apakah masih layak diperbaiki, ditingkatkan, atau memang harus diganti. Keputusan itu sebaiknya didasarkan pada kajian teknis yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar karena proyek baru terlihat lebih menarik.
Sebab setiap meter kubik beton berasal dari uang rakyat. Dan setiap rupiah yang dibelanjakan seharusnya menghasilkan manfaat, bukan sekadar bangunan.
Di TPA Ciangir, yang dibutuhkan bukan hanya IPAL yang berdiri. Yang dibutuhkan adalah sistem pengelolaan sampah yang benar-benar bekerja—mengolah air lindinya, mengendalikan gasnya, melindungi lingkungannya, dan memastikan uang rakyat dipakai secara cermat. Karena kalau tidak, yang terus bertambah bukan hanya tumpukan sampah. Melainkan juga tumpukan pertanyaan. (red)
