Rambut Putih Ketua KADIN!

kadin kota tasikmalaya
Apt. Asep Saepulloh, S.Farm., MPH., C.Ht., C.NLP., Ketua Kadin Kota Tasikmalaya. (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sore itu hujan tidak turun. Langit Kota Tasikmalaya hanya menggantungkan mendung tipis. Matahari mulai kehilangan tenaga. Saya memilih duduk di sebuah sudut Cafe Cronos di Jalan Cibeureum. Tidak lama kemudian datang seorang pria.

Kaosnya biru stabilo. Warnanya mencolok. Sulit tidak melihatnya.

Wajahnya justru sebaliknya. Kalem. Murah senyum. Tidak membawa aura pejabat organisasi yang biasanya penuh formalitas.

Namanya panjang. Apt. Asep Saepulloh, S.Farm., MPH., C.Ht., C.NLP. Saya sempat berpikir, jangan-jangan kartu namanya lebih berat daripada dompetnya.

Baca Juga:Rp3,6 Miliar untuk Mengolah Apa? Jangan Sampai Terjadi Kebakaran di TPA Ciangir!Mengubah Wajah Kabupaten Tasikmalaya Menjadi Ramah terhadap Pembangunan Infrastruktur

Gelar di belakang namanya berbaris seperti antrean loket subsidi. Tetapi lima menit berbincang, semua gelar itu hilang.

Yang tersisa hanya satu. “Kang Asep. Begitulah semua orang memanggilnya.

Ia berwajah baby face. Sulit menebak usianya. Kalau bukan karena rambut putih yang mulai mendominasi, mungkin banyak orang mengira usianya masih kepala tiga.

Saya sempat bercanda. “Rambut putih karena umur?” Ia tertawa. Mungkin bukan. Mungkin karena terlalu banyak berpikir.

Memimpin organisasi pengusaha memang bukan pekerjaan ringan. Apalagi di kota yang ekonominya sering lebih banyak dibahas daripada benar-benar dibangun.

Percakapan kami sore itu tidak banyak membahas perusahaan-perusahaan miliknya. Padahal ia memiliki cukup banyak. Mulai dari PT Yumna Berkah Nusantara, PT Purwareka Engineering, Klinik Arfan Medika Rajapolah, hingga Yumna Digital Corp.

Ia juga seorang apoteker. Magister Public Health. Business coach. Leadership coach. Instruktur kewirausahaan. Pendiri Tasik Berdaya.

Baca Juga:Tasik: Kota Miskin, TPP Kaya!Kota Priiit… Priiit… Priiit!

Daftar sertifikasinya bahkan lebih panjang daripada daftar menu kopi di meja kami. Namun anehnya, ia justru lebih banyak berbicara tentang orang lain.

Tentang pelaku UMKM. Tentang anak-anak muda. Tentang pedagang kecil. Tentang bagaimana mereka bisa tumbuh. Bukan tentang dirinya.

“Saya percaya potensi ekonomi Kota Tasikmalaya itu besar.” Kalimat itu diucapkannya pelan. Bukan dengan nada pidato. Bukan pula dengan semangat berlebihan.

Tetapi terdengar seperti keyakinan yang sudah lama dipikirkan. Masalahnya, menurutnya, bukan kekurangan orang pintar.

Bukan pula kekurangan orang yang mau bekerja. Yang kurang adalah ruang. Wadah. Ekosistem. Kesempatan.

0 Komentar