RADARTASIK.ID – Kontroversi seputar keputusan FIFA di Piala Dunia 2026 kembali memanas.
Setelah sebelumnya mendapat sorotan tajam akibat mencabut hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, kini badan sepak bola dunia itu dituding menerapkan standar yang berbeda dalam menangani kasus Michael Olise.
Keputusan FIFA mempertahankan kartu kuning milik bintang Timnas Prancis tersebut memunculkan kembali tudingan bahwa federasi sepak bola dunia tidak konsisten dalam mengambil keputusan disiplin.
Baca Juga:AC Milan Ingin Borong 3 Pemain Udinese: Gianluca Nani Muncul di Casa MilanEra Baru AC Milan Telah Lahir: Cardinale Turun Gunung Kembalikan Mental Juara Rossoneri
Sebelumnya, gelombang kritik sudah datang dari kubu Mesir usai kekalahan dramatis 2-3 dari Argentina di babak 16 besar.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, bahkan secara terbuka menuduh FIFA ingin menjaga Argentina dan Lionel Messi tetap bertahan di turnamen demi kepentingan pemasaran.
Menurut Hossam Hassan, timnya dirugikan oleh sejumlah keputusan wasit yang dianggap mengubah jalannya pertandingan.
Tudingan tersebut memicu perdebatan panjang mengenai independensi FIFA dalam mengambil keputusan selama turnamen.
Kini, polemik baru kembali muncul setelah FIFA mengambil keputusan berbeda dalam kasus yang melibatkan Michael Olise.
Perdebatan bermula dari insiden yang melibatkan penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Pada laga melawan Bosnia-Herzegovina, Balogun menerima kartu merah langsung setelah melakukan tekel keras terhadap Tarik Muharemovic.
Baca Juga:Como Rekrut Yan Couto, Inter Ogah Naikkan Tawaran untuk KhalailiInter Milan Diminta Penuhi Permintaan Chivu: Jangan Abaikan Keinginan Pelatih
Secara otomatis, hukuman tersebut membuat striker Amerika Serikat harus menjalani larangan bermain satu pertandingan.
Namun situasi berubah secara mengejutkan.
Setelah Amerika Serikat mengajukan banding, FIFA memutuskan membatalkan hukuman tersebut.
Badan sepak bola dunia menilai pelanggaran Balogun terjadi tanpa unsur kesengajaan dan merupakan bagian dari dinamika permainan.
Keputusan itu langsung memicu kontroversi karena menjadi salah satu kasus langka dalam sejarah Piala Dunia, di mana sanksi otomatis akibat kartu merah dibatalkan.
Media-media Eropa bahkan ramai memberitakan adanya komunikasi politik tingkat tinggi sebelum keputusan tersebut diambil.
Meski berbagai spekulasi bermunculan, FIFA tidak pernah mengaitkan keputusannya dengan faktor di luar aspek olahraga.
Pembatalan hukuman Balogun membuat Belgia merasa dirugikan karena harus menghadapi Amerika Serikat dengan kekuatan penuh.
Bahkan para pemain Belgia sempat mengejek lawannya melalui selebrasi “Trump Dance”, sementara UEFA ikut melontarkan kritik terhadap penanganan kasus tersebut.
