PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Pemerintah melakukan uji laboratorium untuk memastikan dampak pencemaran lingkungan akibat insiden batu bara. Kendati demikian, hasilnya masih belum juga ada kejelasan.
Mengenai hal ini, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Batuhiu mendesak adanya keterbukaan terkait hasil uji laboratorium atas dampak tumpahan batu bara di perairan Pangandaran. Sehingga penanganan berjalan dengan transparan dan bisa meminimalisir hal tidak diinginkan.
Ketua Pokdarwis Pantai Batuhiu Jajat Sudrajat mengatakan, pihaknya masih menunggu tindak lanjut dari perusahaan pemilik tongkang yang sebelumnya dijanjikan dalam audiensi bersama DPRD Kabupaten Pangandaran.
Baca Juga:King Cobra Masuk Pemukiman di Pangandaran, Takluk di Tangan Petugas DamkarKas Daerah Bermasalah, Pencairan Hibah Jadi Susah, Organisasi Kena Getah
“Sejak audiensi berlangsung, kami menantikan hasil kajian lingkungan dari perusahaan. Namun sampai sekarang belum ada informasi resmi yang disampaikan kepada masyarakat, termasuk mengenai tindak lanjut tanggung jawab yang sempat dibahas,” ujarnya Rabu (8/7/2026).
Menurut Jajat, penanganan yang terlihat sejauh ini baru difokuskan pada pembersihan material batu bara di sepanjang bibir pantai. Sementara kondisi ekosistem laut dinilai belum mendapatkan penjelasan maupun penanganan yang memadai.
Ia menilai ketidakjelasan hasil kajian tersebut menimbulkan kekhawatiran, baik di kalangan pelaku wisata maupun wisatawan yang berkunjung ke Pantai Batuhiu. Karena itu, Pokdarwis masih mengimbau pengunjung untuk berhati-hati saat melakukan aktivitas di kawasan pantai hingga ada kepastian mengenai kondisi perairan.
“Kami memilih mengedepankan prinsip kehati-hatian. Selama belum ada penjelasan resmi mengenai hasil kajian, kami tetap mengingatkan wisatawan agar lebih waspada ketika beraktivitas di laut,” katanya.
Jajat juga menyoroti dugaan dampak tumpahan batu bara terhadap ekosistem laut, termasuk kemunculan penyu yang selama ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Pantai Batuhiu
Untuk memperoleh gambaran yang lebih objektif, Pokdarwis berkoordinasi dengan akademisi serta pakar di bidang kelautan dan perikanan guna mengkaji kemungkinan perubahan pada ekosistem laut, termasuk kondisi padang lamun dan terumbu karang yang menjadi habitat serta sumber pakan penyu.
“Kami berharap kajian dilakukan secara menyeluruh agar dampak terhadap lingkungan dapat diketahui secara ilmiah dan menjadi dasar langkah pemulihan,” ujarnya.
Baca Juga:Didasari Rasa Kecewa, Sebagian Kader PAN di Kota Tasikmalaya Undur Diri6 Bulan Insentif Guru di Kota Tasikmalaya Belum Dibayar, Pengamat Soroti Sikap Pimpinannya
Ia berharap hasil uji laboratorium segera diumumkan kepada publik sehingga masyarakat memperoleh kepastian mengenai kondisi perairan, termasuk tingkat keamanannya bagi aktivitas wisata maupun kelestarian lingkungan.
