TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID –Kas daerah Pemerintah Kota Tasikmalaya bukan hanya berdampak pada operasional birokrasi. Organisasi penerima mitra pemerintah pun ikut kena getah karena hibah untuk operasional tidak kunjung keluar.
Beberapa organisasi memiliki peran menjadi kepanjangan pemerintah dalam melakukan program di sektornya masing-masing. Di mana sebagian organisasi mengandalkan dana hibah untuk melaksanakan kegiatan yang mendukung program pemerintah..
Sudah bukan rahasia, kondisi kas daerah Pemkot Tasikmalaya saat ini sedang dalam kondisi yang sulit. Hal ini berdampak pada roda birokrasi sehingga muncul kebijakan mengunci SIPD dengan memblokir rekening.
Baca Juga:Didasari Rasa Kecewa, Sebagian Kader PAN di Kota Tasikmalaya Undur Diri6 Bulan Insentif Guru di Kota Tasikmalaya Belum Dibayar, Pengamat Soroti Sikap Pimpinannya
Kondisi itu berdampak juga pada operasional organisasi-organisasi mitra pemerintah, terlebih yang sudah mulai melaksanakan kegiatan. Salah satunya Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT).
Ketua DKKT Tatang Pahat mengakui bahwa saat ini roda organisasi memang cukup tersendat karena dana hibah tak kunjung diterima. Padahal, idealnya dana tersebut sudah bisa digunakan di triwulan pertama. “Sekarang sudah mau masuk triwulan ketiga, tapi belum ada,” ungkapnya.
Alasannya sudah bisa ditebak, kas daerah pemkot sedang tidak baik-baik saja karena belum mampu melakukan optimalisasi pendapatan. Pada akhirnya, permintaan pencairan hibah hanya dijawab dengan retorika yang tidak menjadi solusi. “Menunggu verifikasi, menunggu administrasi dan lain-lain, intinya belum cair karena tidak ada uangnya,” ujarnya.
Padahal dalam berbagai pidato, para pejabat daerah menjadikan seni dan budaya sebagai aset yang harus dilestarikan. Termasuk mendorong organisasi untuk bergerak melaksanakan programnya. “Kalau dalam pidato, seni budaya itu jadi hal yang dibanggakan,” tuturnya.
Namun ketika bicara penganggaran, kata Tatang, seni budaya sebatas anak tiri yang tidak menjadi prioritas. “Kan jadinya pidato sama dukungan anggaran sangat bertentangan,” tuturnya.
Pihaknya memahami pemerintah saat ini sedang dilanda masalah keuangan yang sulit. Akan tetapi optimisme yang diungkap dalam pidato harus bisa realistis. “Optimisme harus berbanding lurus dengan upaya dan peluang, kalau tidak ya hanya bakal jadi mimpi yang bikin gila,” tandasnya.(Rangga Jatnika)
