TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah derasnya arus hiburan digital yang membuat perhatian publik semakin pendek, kesenian Longser terus berjuang mempertahankan napasnya.
Seni teater rakyat khas Sunda itu kini menghadapi tantangan regenerasi, minimnya ruang pertunjukan, hingga perubahan selera generasi muda yang lebih akrab dengan media sosial dibanding panggung budaya.
Sebagai ikhtiar menjaga warisan budaya tersebut, Yayasan Silih Anjang Sono bersama Lesbumi PCNU Kota Tasikmalaya akan menggelar pertunjukan teater rakyat Tamu Agung, adaptasi karya sastrawan Rusia Nikolai Gogol ke dalam format Longser.
Baca Juga:Potensi Zakat Kota Tasikmalaya Rp100 Miliar, Baru Terkumpul 6 PersenRakernas APEKSI Bahas PAD dan KPBU, Pemkot Tasikmalaya Berburu Solusi Pembangunan
Pementasan dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026 di Lapangan Balai Kota Tasikmalaya dan terbuka gratis bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan Dana Indonesiaraya 2025 kategori Pemanfaatan Ruang Publik dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali ruang publik melalui seni tradisi.
Longser bukan sekadar hiburan rakyat. Seni pertunjukan yang telah hidup lebih dari satu abad itu memiliki struktur dramaturgi, pakem pertunjukan, hingga tradisi kritik sosial yang kuat.
Setiap pementasan selalu diawali dengan tatalu sebagai penanda dimulainya pertunjukan, kemudian berkembang menjadi cerita yang sarat humor, sindiran, sekaligus pesan moral bagi masyarakat.
Dalam sejarahnya, Longser pernah mengalami masa keemasan ketika Ateng Japar mendirikan grup Pancawarna pada 1939.
Dari kelompok seniman jalanan, Pancawarna berhasil membawa Longser naik kelas hingga tampil di gedung-gedung pertunjukan formal tanpa kehilangan identitas kerakyatannya.
Namun setelah wafatnya Ateng Japar pada 2002, geliat Longser perlahan mengalami penurunan. Regenerasi seniman berjalan lambat, sementara ruang pertunjukan tradisional semakin menyempit.
Baca Juga:Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan Mengintai Kota Tasikmalaya, BPBD Soroti Kebiasaan Bakar SampahTunda Bayar Rp46,25 Miliar Lunas, APBD Kota Tasikmalaya Waspadai Defisit
Fenomena tersebut juga menjadi perhatian akademisi internasional. Profesor Jörgen Hellman dari University of Gothenburg dalam kajiannya mengenai politik kebudayaan Indonesia mencatat bahwa Longser merupakan salah satu seni tradisi yang terus menghadapi tarik-menarik antara pelestarian budaya dan perubahan sosial.
Di Tasikmalaya sendiri, perjuangan menjaga eksistensi Longser juga tidak lepas dari kiprah almarhum Cupit Danuarta.
Sosok yang dikenal sebagai maestro teater rakyat itu dinilai memiliki peran besar dalam menjaga tradisi lisan, estetika pertunjukan, hingga semangat teater rakyat Sunda tetap hidup di tengah masyarakat.
