TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Potensi zakat di Kota Tasikmalaya diperkirakan melampaui Rp100 miliar setiap tahun.
Sayangnya, dana umat sebesar itu hingga kini lebih banyak menjadi potensi daripada realisasi.
Baznas Kota Tasikmalaya baru mampu menghimpun sekitar 4-6 persen atau berkisar Rp5 miliar hingga Rp7 miliar per tahun.
Baca Juga:Rakernas APEKSI Bahas PAD dan KPBU, Pemkot Tasikmalaya Berburu Solusi PembangunanAncaman Kebakaran Hutan dan Lahan Mengintai Kota Tasikmalaya, BPBD Soroti Kebiasaan Bakar Sampah
Kondisi tersebut diungkap Ketua Baznas Kota Tasikmalaya H Nasihin saat menerima audiensi Forum Silaturahmi Slasar Masjid Agung (Fossma) di Kantor Baznas, Jumat (3/7/2026).
Menurut Nasihin, rendahnya capaian penghimpunan zakat menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama.
Di tengah besarnya potensi masyarakat muslim Kota Tasikmalaya, kesadaran menunaikan zakat melalui lembaga resmi dinilai masih perlu terus ditingkatkan.
“Potensinya lebih dari Rp100 miliar. Yang baru berhasil dihimpun sekitar 4 sampai 6 persen. Ini menjadi tantangan besar bagi kami ke depan,” katanya.
Karena itu, Baznas membuka ruang kolaborasi dengan Fossma untuk memperluas edukasi, sosialisasi, hingga penguatan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah.
Menurutnya, semakin besar dana zakat yang terkumpul, semakin luas pula manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Ia menjelaskan, dana zakat tidak hanya disalurkan dalam bentuk bantuan sosial, tetapi juga diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi.
Baca Juga:Tunda Bayar Rp46,25 Miliar Lunas, APBD Kota Tasikmalaya Waspadai DefisitDana Talang Rp6,85 Miliar Macet di Bank Plat Merah Tasikmalaya, Nasabah Prioritas Ancam Tempuh Jalur Hukum
Bantuan modal usaha, beasiswa bagi pelajar dan santri, hingga berbagai program kemanusiaan menjadi fokus agar penerima manfaat mampu bangkit secara ekonomi.
Nasihin berharap zakat produktif dapat menjadi salah satu instrumen menekan angka kemiskinan di Kota Tasikmalaya yang hingga kini masih berada di peringkat ketiga tertinggi di Jawa Barat.
Baginya, potensi zakat tidak boleh terus menjadi “raksasa yang tertidur”, sementara persoalan kemiskinan masih menghantui masyarakat.
Sementara itu, Ketua Fossma Dadang AP menyampaikan organisasinya siap membangun sinergi dengan Baznas.
Ia menjelaskan Fossma lahir dari forum diskusi masyarakat di Selasar Masjid Agung Tasikmalaya yang kemudian berkembang menjadi organisasi berbadan hukum dengan semangat menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Saat ini Fossma memiliki sekitar 90 pengurus yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari ulama, akademisi, advokat, aktivis, praktisi pemerintahan, ekonom, budayawan, seniman hingga tokoh masyarakat.
