Longser Tasikmalaya Melawan Zaman, Panggung Jadi Benteng Tradisi

pertunjukan Longser 
Ilustrasi seniman longser sedang latihan. Olah digital / ChatGPT
0 Komentar

Saat ini tantangan yang dihadapi semakin kompleks. Budaya digital, berkurangnya interaksi tatap muka, hingga dominasi hiburan modern membuat seni pertunjukan tradisional semakin tersisih.

Kondisi itu diperparah dengan semakin sedikitnya generasi muda yang berminat mempelajari rebab, kendang, maupun sastra lisan Sunda sebagai fondasi utama Longser.

Ironisnya, ruang publik yang dahulu menjadi rumah alami Longser kini banyak beralih fungsi. Panggung rakyat perlahan tergeser oleh ruang komersial.

Baca Juga:Potensi Zakat Kota Tasikmalaya Rp100 Miliar, Baru Terkumpul 6 PersenRakernas APEKSI Bahas PAD dan KPBU, Pemkot Tasikmalaya Berburu Solusi Pembangunan

Jika kondisi itu terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Longser hanya akan menjadi cerita dalam buku sejarah—warisan yang dikenang, tetapi jarang dipentaskan.

Meski demikian, optimisme masih tetap tumbuh. Sejumlah budayawan pernah menawarkan pendekatan baru melalui konsep Longser Gaul atau Kabaret Longser yang memadukan tradisi dengan isu-isu kontemporer.

Pendekatan tersebut membuktikan Longser memiliki karakter lentur dan mampu beradaptasi tanpa kehilangan ruhnya.

Pementasan Tamu Agung di Tasikmalaya menjadi salah satu bukti bahwa Longser masih memiliki ruang untuk berdialog dengan masyarakat modern. Selama humor, satire, musik pengiring, dan nilai-nilai kritik sosial tetap dijaga, Longser diyakini akan tetap relevan melintasi zaman.

Sebab pada akhirnya, yang terancam bukan hanya sebuah pertunjukan, melainkan cara masyarakat Sunda menertawakan persoalan hidup sambil menyampaikan kritik dengan elegan.

Ketika panggung Longser tetap menyala, sesungguhnya identitas budaya juga sedang dipertahankan agar tidak kalah oleh derasnya guliran layar gawai. (rezza rizaldi)

0 Komentar